Mengenal Masjid Itaweon, Satu-satunya Masjid di Seoul

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Masjid Itaewon di Seoul, Korea Selatan. TEMPO | Purwani Diyah Prabandari

    Masjid Itaewon di Seoul, Korea Selatan. TEMPO | Purwani Diyah Prabandari

    TEMPO.CO, Seoul - Jarum jam menunjukkan hampir pukul 11.00. Namun sinar matahari yang menyorot tak juga memberikan kehangatan bagi orang yang lalu-lalang di jalanan di Seoul, Korea Selatan, pada pertengahan Februari 2019.

    Baca: Megahnya Kantor Amorepacific di Seoul, Ada Museum Hingga Daycare

    Dingin tetap saja membekap. Syal yang melilit di leher pun dinaikkan untuk menutup sebagian muka, menahan angin yang menyergap, membekukan wajah. "Anda bisa lewat tangga ini, nanti ke kiri sedikit, terus ke kanan. Naik terus saja, nanti akan ketemu masjidnya," kata seorang perempuan Korea menjelaskan arah menuju Masjid Pusat Seoul dari sebuah halte bus di Jalan Itaewon dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.

    Mengikuti arahan perempuan tersebut, akhirnya, tampaklah menara masjid satu-satunya di ibu kota Korea Selatan tersebut, yang juga masjid modern tertua di sana. Tetapi gerbang masuk yang saya temukan bukanlah gerbang utama masjid yang berada di Usadan-ro 10gil, Yongsan-gu ini.

    Sembari mengatur napas yang terengah-engah akibat jalan menanjak, saya memilih mengelilingi halaman masjid yang juga dikenal dengan Masjid Itaewon ini. Di sebelah kanan masjid, ada bangunan untuk beberapa kantor. Ada Sekolah Islam Pangeran Sultan, ada juga kantor Komite Halal Korea. Di ujung belakang terdapat kamar mandi dan tempat wudhu.

    Menapaki lantai 1 masjid yang berada di puncak bukit itu merupakan area kantor Federasi Muslim Korea. Terdapat pengumuman agar pengunjung mengenakan pakaian yang sopan. Sementara di lantai 2, ruang untuk salat jamaah pria. Kaum perempuan mesti ke lantai atasnya lagi bila ingin salat. Tempat salat para perempuan ini kecil dan bisa melihat lantai bawah di mana para pria bersembahyang, seperti balkon pertunjukan karena juga ada undakan.

    Menjelang siang, kompleks masjid yang berpagar dinding tinggi itu tampak sepi. Ada beberapa orang memasukkan barang ke mobil. Silih berganti pelancong datang dalam jumlah tak banyak. Mereka berfoto-foto dengan tenang. Baru setelah keluar rombongan anak-anak yang dipandu seorang guru untuk foto bersama di tangga depan masjid untuk menuju lantai 2, riuh terdengar. Sang guru pun tampak kesulitan mengatur murid-murid taman kanan-kanak tersebut.

    Masjid Itaewon di Seoul, Korea Selatan. TEMPO | Purwani Diyah Prabandari

    Belum usai keliling, saya bertemu dengan Ahmad Cho, seorang pengurus Federasi Muslim Korea (KMF) yang juga Direktur Komite Halal Korea. Beberapa hari sebelumnya, saya bertemu dengannya di acara Forum Perdamaian Global Pyeongchang 2019 di Pyeongchang, Provinsi Gangwon.

    "Banyak pelancong mengunjungi masjid ini, terutama pada akhir pekan," kata Ahmad Cho yang menjadi Muslim sejak 20 tahun lalu, atau sekitar separuh dari usianya. Menurut Cho, tak hanya pelancong asing, banyak juga orang Korea, termasuk warga Seoul, yang berkunjung ke masjid. “Melihat sesuatu yang berbeda, arsitektur berbeda."

    Artikel lainnya: 4 Destinasi Wisata Wajib di Incheon, Ada Desa Dongeng

    Masjid yang juga dikenal dengan Masjid Itaewon ini memang seolah bangunan aneh di sekeliling bangunan rumah, rumah toko, dan gedung-gedung modern Seoul. Bangunan masjid menonjol dengan arsitektur khas bangunan Islam dengan pintu-pintu berlengkung mewarnai nyaris sekeliling masjid. Demikian juga ornamen khas arsitektur Islam juga terlihat di sebagian besar tembok. Sementara dua minaret tegak di pojok depan kanan dan kiri masjid. Di tengahnya terpampang tulisan Arab besar berwarna hijau: Allahu Akbar.

    Masjid tersebut merupakan bangunan yang relatif baru bagi warga Seoul. Masjid yang mulai dibangun pada 1974 itu baru mulai digunakan pada 1976. Maklum, memang sedikit warga Korea yang Muslim. Menurut Cho, populasi Muslim di Korea Selatan sekitar 150 ribu orang. Sementara penduduk Korea Selatan lebih dari 48 juta. "Kebanyakan (Muslim) orang asing, orang Korea sendiri sekitar 35 ribu," katanya.

    Komunitas Muslim asing terbesar, kata Cho, orang Indonesia. Mereka merupakan bagian terbesar dari sekitar 50 ribu orang Indonesiayang tinggal di Korea Selatan. Disusul dari negara-negara Asia Tengah seperti Uzbekistan, Kazhakhstan dan Turkistan, juga banyak dari Pakistan dan Bangladesh.

    Warga Muslim Korea mulai berkembang sejak 1970 - 1980an saat banyak perusahaan Korea mengerjakan proyek-proyek konstruksi di Timur Tengah. "Banyak yang kemudian menjadi Muslim," ujar Cho. Dan karena hubungan tersebut, Masjid Pusat Seoul bisa terbangun.

    Ahmad Cho, Direktur Komite Halal Korea. TEMPO | Purwani Diyah Prabandari

    Pemerintah Korea menyumbang tanah seluas 5.000 meter persegi, sementara dana pembangunannya merupakan sumbangan dari beberapa lembaga dari Timur Tengah dan Malaysia. "Mereka perlu hubungan yang lebih konkrit. Makanya pemerintah menyumbang tanah untuk pembangunan masjid," kata Cho.

    Yang unik, pengurus masjid tak mesti Muslim. Contohnya adalah Kang Na Yeon yang telah bekerja di masjid selama 10 tahun. "Saya butuh pekerjaan," katanya. Namun lima tahun lalu, ia menjadi Muslim dan menggunakan nama Safiya Kang. "Saya mempelajari Islam," ujar Safiy akini menjadi manajer Federasi Muslim Korea.

    Masjid Seoul tak hanya menjadi destinasi wisata seni arsitektur yang berbeda. Banyak pelancong asing, terutama kaum Muslim yang meramaikan masjid untuk menumpang salat. Seperti siang itu, beberapa pria salat Dhuhur berjamaah di lantai 2. Sementara beberapa perempuan terengah-engah naik ke lantai 3 untuk salat. "Masih jauh lagi?" Pertanyaan berbahasa Melayu dari seorang perempuan yang terengah-engah saat berpapasan dengan saya di tangga berputar.

    Kawasan Masjid Seoul memang serasa oase bagi pelancong Muslim. Tak hanya mendapat tempat salat yang bagus, tetapi wisatawan juga bisa menemukan makanan atau jajanan halal yang tak gampang ditemukan di seantero Seoul, maupun di kota-kota lain di Korea Selatan. Kebanyakan restoran menyediakan makanan yang mengandung babi atau lemak babi, atau dapurnya yang tak halal. Atau juga pemrosesan makanan yang tak halal.

    Menurut Ahmad Cho, sejauh ini hanya ada dua restoran yang memiliki sertifikat halal. Sebagian besar restoran di sekitar Masjid pun tidak memiliki sertifikat halal. Tetapi pemiliknya Muslim, sehingga diyakini makanannya halal sesuai promosi mereka. Restoran yang banyak ditemukan di kawasan ini kebanyakan menyediakan makasan Timur Tengah, Asia Selatan, atau Turki. Padahal promosi paket wisata halal Korea Selatan marak ditawarkan di Indonesia.

    Kawasan Itaewon memang seperti sejengkal “tanah halal” di Seoul yang wajib dikunjungi penikmat wisata halal. Tetapi bila pelancong Muslim ingin mengunjungi masjid-masjid lain, menurut Cho, di seluruh Korea Selatan terdapat sekitar 17 masjid yang tersebar di berbagai kota dan lebih banyak lagi musala, termasuk yang di Seoul.

    Tapi dalam kunjungan ke Korea kali itu, saya hanya mengunjungi masjid Itaewon dan kawasan sekelilingnya. Siang itu, kebalikan dengan cara masuk, saya meninggalkan masjid lewat pintu depan. Baru terlihat gerbang khas arsitektur Islam dengan lengkungan di bagian atasnya. Kalimat syahadat yang tertulis besar di tembok di gerbang, seolah mengantar saya untuk melanjutkan perjalanan. La Ilaha Illallah, Muhammad Rasulullah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.