3 Tips Mudah Mendaki Gunung Tanpa Sampah

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi naik gunung/berkemah/liburan/traveling. Shutterstock.com

    Ilustrasi naik gunung/berkemah/liburan/traveling. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendaki gunung mesti memperhitungkan bawaan mereka sebelum berangkat. Mulai dari peralatan wajib seperti tenda, jaket, ransel, tali temali, sampai makanan sebagai sumber energi.

    Baca: Garam Bukan di Laut, tapi di Gunung Krayan dan Diekspor

    Terkadang saking takutnya kelaparan di gunung, pendaki membawa bekal yang berlebihan dan tentunya setiap makanan itu masih dalam kemasan. Mungkin saat itu belum terpikir bagaimana agar bungkus makanan tadi tidak menjadi sampah di gunung yang pada akhirnya mencemari lingkungan.

    Prinsipnya, mendaki gunung tanpa menghasilkan sampah tidakah mustahil. Pegiat Zero Waste Adventure, Siska Nirmala berbagi tips naik gunung yang lebih ramah lingkungan. Berikut ini tipsnya.

    1. Hitung kalori yang dibutuhkan
    Pendaki gunung harus menghitung jumlah kalori yang dibutuhkan selama pendakian karena berkaitan dengan jumlah perbekalan yang akan dibawa dalam perjalanan. "Sebelum mendaki, hitung dulu jumlah kalori yang dibutuhkan dan berapa lama mendaki," kata Siska di Jakarta.


    Pendaki gunung sekaligus pegiat zero waste adnventure Siska Nirmala. ANTARA

    2. Perbekalan tidak menghasilkan sampah
    Mendaki gunung tanpa menghasilkan sampah sejalan dengan gaya hidup zero waste, yakni mengurangi penggunaan bahan makanan yang menghasilkan sampah. "Jadi, bawa perbekalan yang tidak menghasilkan sampah," kata dia.

    Baca juga:
    Jokowi Travelling Story, Jokowi Bawa Bekal Makanan Apa ke Gunung?

    3. Bawa botol air isi ulang
    Siapkan tumbler atau botol air minum yang dapat diisi ulang sehingga tidak meninggalkan sampah botol plastik di perjalanan. "Botol bekas air mineral adalah sampah terbanyak di gunung-gunung Indonesia," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.