Wisata ke Teluk Bintuni Papua, Surga Mangrove 200 Hektare

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kawasan Hutan Mangrove, Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, 31 Agustus 2018. Luas dan indahnya Hutang Mangrove juga dijadikan sebagai destinasi wisata bagi para pengunjung Karimunjawa. ANTARA FOTO/Aji Styawan

    Kawasan Hutan Mangrove, Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, 31 Agustus 2018. Luas dan indahnya Hutang Mangrove juga dijadikan sebagai destinasi wisata bagi para pengunjung Karimunjawa. ANTARA FOTO/Aji Styawan

    TEMPO.CO, Papua Barat - Kabupaten Teluk Bintuni di Papua Barat memiliki mangrove atau hutan bakau seluas 200 hektare. Mangrove di Teluk Bintuni terbaik di dunia setelah Raja Ampat dan mencakup 10 persen dari luas hutan mangrove Indonesia.

    Baca: Ada Elang Bondol, Bekasi Tata Ekowisata Mangrove Muara Gembong

    Mangrove di Teluk Bintuni memungkinkan penduduk sekitar mengembangkan komoditas perikanan, seperti udang dan kepiting. Pada 1980, World Wild Foundation atau WWF mengusulkan hutan mangrove di Teluk Bintumi masuk dalam cagar alam. Usulan ini ditindaklanjuti oleh Konservasi Internaional (CI).

    Untuk pengembangan cagar alam, Teluk Bintuni masuk dalam kawasan strategis nasional, setelah Raja Ampat. Salah satu program pemerintah daerah setempat adalah peningkatan pembangunan berbasis konservasi karena mangrove dinilai penting bagi perdagangan karbon.

    Teluk Bintuni merupakan satu dari dari empat daerah di Papua yang akan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK. Tiga daerah lain adalah Raja Ampat, Sorong, dan Merauke. Untuk mencapai Teluk Bintuni, wisatawan yang menempuh jalur laut bisa naik perahu dan bersandar di Distrik Babo, Kabupaten Teluk Bintuni. Sejauh mata memandang, kapal dan hutan mangrove menjadi pemandangan yang menghiasi tepian perairan.

    TERAS.ID | JUBI.CO.ID

    Baca juga:
    Tanam Mangrove seperti Iriana Jokowi? Tilik Manfaatnya di Mataram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.