Kesalahan Paling Sering dalam Memotong Tumpeng, Ini Teorinya

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ibu Mufidah Jusuf Kalla memberikan potongan tumpeng pada Wapres Jusuf Kalla saat merayakan ulang tahun yang ke-76, di Jakarta, 12 Februari 2019. Foto : SetwapresRI

    Ibu Mufidah Jusuf Kalla memberikan potongan tumpeng pada Wapres Jusuf Kalla saat merayakan ulang tahun yang ke-76, di Jakarta, 12 Februari 2019. Foto : SetwapresRI

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden dari Indonesia Gastronomy Association (IGA) Ria Musiawan mengatakan saat ini masih terjadi salah kaprah mengenai tumpeng terutama pemotongan puncak tumpeng.

    Baca: Mencicipi Tumpeng Versi Vegetarian

    "Kebiasaan memotong tumpeng harus diperbaiki, karena berpotensi merusak nilai filosofis dalam tradisi tumpengan," kata Ria Musiawan di Jakarta, Selasa 2 April 2019.

    Tumpeng, kata dia, merupakan simbol atau lambang permohonan makhluk hidup kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dapat juga diartikan dengan simbol hubungan antara pemimpin dengan rakyatnya.

    Dengan memotong tumpeng dapat diartikan memotong hubungan tersebut. Jadi seharusnya, tumpeng tersebut tidak dipotong akan tetapi dikeruk, ujarnya.

    Filosofi dan falsafah tumpeng adalah lambang gunungan yang bersifat awal dan akhir. Tumpeng juga mencerminkan manifestasi simbol sifat alam dan manusia yang berawal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan, katanya.

    Masyarakat datang ke puncak Bukit Tidar membawa tumpeng untuk Selametan Puser Bumi, Minggu, 24 Maret 2019. TEMPO | Bram Setiawan

    Dia juga menjelaskan bahwa tumpeng yang menjulang ke atas itu menggambarkan tangan manusia merapat dan menyatu menyembah Tuhan. Tumpeng juga menyimpan harapan agar kesejahteraan maupun kesuksesan semakin meningkat.

    "Jadi kalau dipotong, maka seolah-olah itu memotong hubungan kita dengan Tuhan, karena puncak tumpeng itu melambangkan tempat bersemayam Sang Pencipta," kata dia lagi.

    Pengerukan tumpeng, urainya, hanya boleh dikeruk sisi samping dari bawah, kemudian orang yang mengeruk tersebut mengucapkan doa dalam hati.

    Pada zaman dahulu, para tokoh yang memimpin doa akan menjelaskan dulu makna tumpeng sebelum disantap, ujarnya.

    Baca: Sama-sama Lezat, Ini Beda Tumpeng di Jawa dan Bali 

    Bagi para gastronom, makanan yang disajikan merupakan hasil dari adaptasi manusia terhadap lingkungan, agama, adat, kebiasaan, dan tingkat pendidikan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.