Bukan Laut, Raja Ampat pun Punya Wisata Darat Memikat, Apa Saja?

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Mulyani berlibur di Raja Ampat (instagram @smindrawati)

    Sri Mulyani berlibur di Raja Ampat (instagram @smindrawati)

    TEMPO.CO, Jakarta -  Hutan Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, memiliki keanekaragaman hayati tinggi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata darat yang akan dikembangkan.

    Baca juga: Raja Ampat di Bukit Tuamese NTT, Tempat Syuting Pevita Pearce

    Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat Yusdy Lamatenggo di Waisai, Papua Barat, Minggu, mengatakan bahwa pariwisata Raja Ampat lebih terkenal adalah wisata bahari dibandingkan wisata darat, padahal potensi darat  begitu luar biasa.

    Dia mengatakan Balai Besar KSDA Papua Barat dan Fauna Flora International Indonesia Programme (FFI) di Raja Ampat telah melakukan penelitian terkait kekayaan alam hutan Raja Ampat sebagai data awal guna dikembangkan sektor pariwisata.

    Karena itu, kata dia, jika potensi darat tersebut dimasukkan dalam perencanaan pengelolaan pariwisata dinas pariwisata maka pariwisata daerah setempat akan lebih baik.

    Menurut dia, Raja Ampat memiliki rencana induk tata daerah yang banyak mengatur laut. Pengelolaan pariwisata belum menyentuh daratan karena sebagian daratan termasuk cagar alam. Namun, kawasan sekitar cagar alam masih bisa memanfaatkannya.
    Kawasan Raja Ampat, 2012
    "Tingginya keanekaragaman satwa dan tumbuhan di Raja Ampat menjadi daya tarik kegiatan pariwisata. Ada lebih dari 186 jenis burung, 40 jenis amfibi, 13 jenis reptil, 32 jenis mamalia, 350 jenis pohon kayu dan palem, 57 jenis anggrek, dan 5 jenis kantong semar yang dapat menjadi obyek untuk wisata," ujarnya.

    Livelihood Officer Fauna dan Flora International Indonesia Programme Wolter Gaman yang memberikan keterangan terpisah, mengatakan program ekowisata yang didampingi oleh FFI salah satunya adalah wisata kampung dan alam.

    Kegiatan pertama yang dilakukan adalah mengenalkan tentang pentingnya menjaga alam dan jasa lingkungan dapat dimanfaatkan dalam bentuk ekowisata.

    "Tidak saja keanekaragaman hayati, budaya, dan sosial masyarakat juga memiliki potensi yang tinggi untuk ekowisata," ucapnya.

    Dikatakan, pendekatan kepada masyarakat tidak berhenti. Masyarakat semakin tertarik dalam mengembangkan kampung sebagai destinasi wisata.

    Pada awal 2015 bersama BBKSDA Papua Barat, FFI mencoba menfasilitasi Kampung Warimak, Kalitoko, Wawiyai, Saporkren, dan Waifoi sebagai desa wisata.

    Begitu pula Kampung Saporkren masyarakat semakin giat untuk mengembangkan guest house dan wisata pengamatan burung dan tenaga pemandu wisata.

    Ia menyampaikan guna menghasilkan pribadi yang ramah terhadap para tamu, diselenggarakan pelatihan pelayanan guest house, homestay, dan teknik kepemanduan.

    Selain itu, memberi bantuan solar sel dan kasur, serta melibatkan pemuda kampung untuk berperan aktif menjaga dan monitor wilayah mereka dengan memberi bantuan kamera dan GPS.

    "Wisata yang tengah dikembangkan FFI bersama masyarakat lokal Raja Ampat, antara lain tracking panorama alam, tracking malam, mancing malam, wisata proses tokok sagu, aktivitas berkebun, pengamatan burung, gua kelelawar, budaya dan cerita rakyat," ungkapnya.

    Baca juga:Singgah ke Raja Ampat, Apa yang Bikin Sri Mulyani Sumringah?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.