Warga Kawasan Wisata Mandalika Lombok Dilatih Mengelola Sampah

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga membersihkan sampah di Pantai Tanjung Aan, kawasan Mandalika, Lombok (TEMPO/Supriyantho Khafid)

    Warga membersihkan sampah di Pantai Tanjung Aan, kawasan Mandalika, Lombok (TEMPO/Supriyantho Khafid)

    TEMPO.CO - Mataram - Sampah selalu dipandang sebagai isu yang terus berkembang di kawasan destinasi wisata, seperti di Pantai Tanjung Aan yang terletak di kawasan Mandalika, Lombok.

    Baca: Kawasan Sirkuit Mandalika Jadi Wisata Olahraga? Ini Kata Menpar

    Pantai Tanjung Aan dikenal dengan pemandangan indah, butiran pasir putih yang teksturnya seperti merica. Pantai ini banyak menarik minat wisatawan baik Nusantara maupun mancanegara untuk mengunjunginya.

    Tingginya minat wisatawan menyebabkan kawasan pantai tersebut dan lingkungan sekitarnya belum sepenuhnya dapat terhindar dari masalah sampah.

    Itu sebabnya PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) melatih warga setempat mengikuti pemilahan sampah organik dan anorganik, pemanfaatan sampah organik menjadi kompos, pelatihan membuat barang kerajinan, serta pembentukan bank sampah.

    Pelatihan diikuti oleh 25 orang yang merupakan warga Tanjung Aan dan sekitarnya hingga Dusun Gerupuk. Di samping mengikuti pelatihan, masyarakat akan didampingi selama 14 hari oleh tim Bank Sampah NTB dan ITDC hingga terbentuknya bank sampah. Bank sampah ini nantinya akan dikelola oleh masyarakat.

    Program yang diselenggarakan bekerja sama dengan Bank Sampah NTB Mandiri ini, berlangsung selama tiga hari, yaitu pada 27 Februari – 1 Maret 2019, bertempat di kantor ITDC Mandalika.

    Direktur Keuangan dan Strategi Korporat ITDC Nusantara Suyono mengatakan program pelatihan dan pembentukan Bank Sampah berbasis masyarakat ini merupakan salah satu upaya  dalam mengubah paradigma masyarakat di sekitar kawasan Mandalika, khususnya di kawasan Tanjung Aan, mengenai sampah. ''Kami berharap masyarakat dapat melihat sampah sebagai barang yang memiliki nilai untuk bisa dimanfaatkan kembali,'' katanya, Jum'at 1 Maret 2019.

    Diharapkan mereka terdorong untuk mengolahnya menjadi barang bernilai ekonomis yang memiliki potensi untuk memberikan penghasilan tambahan. Disamping itu, dengan mengikuti kegiatan ini, masyarakat dapat memberikan kontribusinya dalam mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir," ujar Nusantara Suyono.

    ITDC mengutip persoalan pengelolaan sampah masih menjadi sorotan di Indonesia. Suatu riset mengenai Sustainable Waste Indonesia (SWI) mengungkapkan bahwa sebanyak 24 persen sampah di Indonesia masih tidak terkelola, tujuh persen sampah didaur ulang, dan 69 persen berakhir di TPA.

    Baca: Tahun Baru, Nikmati Fasilitas Anyar di Pantai Mandalika Lombok


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.