Pendaki Gunung Solo: dari Mencari Sunyi, sampai Dibegal Monyet

Reporter:
Editor:

Diko Oktara

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dicky Satriya. Dok.Dicky Satriya

    Dicky Satriya. Dok.Dicky Satriya

    TEMPO.CO, Jakarta - Keinginan merasakan kesunyian membawa Dicky Satriya Hutomo, 26 tahun, menjadi pendaki gunung solo atau mendaki gunung seorang diri. Ia melakukan pendakian secara solo pada 18-20 November lalu di Gunung Sumbing, Jawa Tengah. Meski baru pertama kali mendaki gunung secara solo, ia merasakan suasana gunung bisa membuatnya merenung dan bertafakur. “Lebih mengena saja momennya,” katanya kepada Tempo, Rabu lalu.

    Youtuber dengan 10 ribu subscriber ini menjelaskan dirinya melakukan persiapan seperti melakukan jogging selama 1 bulan sebelum melakukan pendakian selama tiga hari. Ia juga pergi ke gym dan melakukan latihan cardio serta latihan lainnya untuk melatih kaki, punggung, dan bahunya.

    Selain mencari kesunyian, Dicky rupanya memiliki alasan lain, yakni ingin mematahkan persepsi orang-orang tentang cerita mistis di atas gunung. Ia mengaku kurang menyukai cerita mistis di gunung yang disebarkan melalui media sosial. Baginya, cerita-cerita ini menyebabkan ketakutan yang berlebihan pada orang lain sehingga menurunkan minat orang mendaki gunung.

    Baca: Cerita Rocky Gerung Melakukan Pendakian Solo

    Menurut Dicky, sejumlah temannya menolak mendaki gunung karena terlalu khawatir bertemu dengan sosok mistis atau mengalami hal yang menyeramkan. Sebabnya, ia memutuskan camp atau menginap selama dua malam di sekitar pos 4 Watu Kotak Gunung Sumbing yang memiliki sebuah mitos. Mitos itu berupa jangan memetik dan mengambil apa pun di pos 4 Watu Kotak jika tidak ingin celaka.

    Saat berkemah di sana, Dicky tidak sengaja melanggar mitos itu dengan mengambil kayu dari sebuah pohon yang sudah tumbang dan mongering karena pasak tenda yang dipasangnya sering lepas akibat terpaan angin. Ia lalu teringat mitos tersebut namun ia percaya niatnya tidak buruk sehingga tak terjadi apa pun padanya.

    Berbeda dengan Dicky, eks vokalis sekaligus gitaris band indie Captain Jack asal Yogyakarta, Muhammad Dani Fedriadi alias Momo, 30 tahun, justru pernah mengalami hal yang mistis saat mendaki seorang diri. Ia cukup sering adalah mendengar langkah kaki yang mengelilingi tenda yang ditidurinya.

    Namun begitu dicek keluar tenda dan menyalakan lampu senter, ternyata tak ditemukan apa-apa. Momo juga pernah pula mendengar bunyi gamelan di Gunung Merbabu dan suara tangisan di Gunung Lawu. “Kalau ke luar tenda malah aman-aman saja,” kata Momo membuka kiatnya.

    Baca: Para Pendaki Gunung Secara Solo

    Di luar tenda, Momo menyeduh minuman hangat, menyalakan rokok, menikmati alam. Apabila hal-hal mistis itu masih dirasakan, dia pun mengajak ngobrol. “Mari sini duduk bersama. Itu jadi hal-hal yang lucu, tidak seram,” kata Momo yang mengenal gunung pertama kali pada 2004 dengan mendaki Gunung Merapi.

    Bagi Momo pendakian solo seperti proses pembersihan isi kepala dan hati sehingga bisa merasakan apa yang diinginkan dan mendengarkan jelas suaranya. “Setiap bulir air hujan yang jatuh bisa dinikmatin. Itu candu yang parah.”

    Pemilik akun Instagram dengan 13 ribu pengikut ini memiiliki pengalaman dibegal kawanan monyet yang mencuri bekal makanannya. Ia juga pernah berpapasan dengan macan kumbang saat mendaki Gunung Argopuro di Jawa Timur, jarak mereka hanya 10 meter, namun ia tetap selamat. Justru pengalaman tak menyenangkan terjadi ketika berhadapan manusia.

    Momo pernah beberapa kali memergoki pendaki yang mencorat-coret bebatuan di gunung dan membuang sampah sembarangan. Namun hal yang paling membuatnya geram adalah melihat pendaki yang berbuat mesum di dalam tenda yang dijumpainya di Gunung Slamet dan Gunung Semeru. “Itu lebih sakit karena aku enggak bisa mengambil tindakan apa-apa. Akhirnya kembali ke niat awal mendaki,” tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.