Kenapa Ada Barongsai Saat Perayaan Imlek? Intip Sejarahnya

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak bersiap untuk memainkan Barongsai di Vihara Arya Dharma, Jayapura, Papua, Rabu 5 Februari 2019. Perayaan Imlek 2570 tersebut disemarakkan dengan pertunjukan barongsai, penyalaan lilin dan sembahyang. ANTARA FOTO/Gusti Tanati

    Sejumlah anak bersiap untuk memainkan Barongsai di Vihara Arya Dharma, Jayapura, Papua, Rabu 5 Februari 2019. Perayaan Imlek 2570 tersebut disemarakkan dengan pertunjukan barongsai, penyalaan lilin dan sembahyang. ANTARA FOTO/Gusti Tanati

    TEMPO.CO, Jakarta - Setiap perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek, salah satu pertunjukkan wajib yang sering kita jumpai adalah barongsai. Penampilan boneka berbentuk singa dengan tubuh bersisik layaknya naga, yang dimainkan oleh beberapa orang ini jadi tontonan menarik yang ditunggu-tunggu. Gerakkannya yang lincah dan musik pengiring yang meriah, jadi daya tarik tersendiri

    Baca juga: Hari Raya Imlek di Ancol: Kolaborasi Barongsai dan Reog Ponorogo

    Ada dua jenis tarian singa, seperti disebutkan dalam wikipedia. Yaitu Singa Utara dan Singa Selatan. Singa utara ini disebut Peking Sai, memiliki bulu lebat dan panjang berwarna kuning dan merah. Biasanya Singa Utara dimainkan dengan 2 singa dewasa dengan pita warna merah di kepalanya yang menggambarkan singa jantan, dan pita hijau (kadang bulu hijau di kepalanya) untuk menggambarkan singa betina.

    Sementara Singa Selatan, cirinya bersisik dan bertanduk. inilah yang sering kita lihat, atau kita sebut Barongsai. Singa Selatan lebih ekspresif dibanding Singa Utara. Singa Selatan memiliki berbagai macam jenis. Singa yang memiliki tanduk lancip, mulut seperti bebek, dahi yang tinggi, dan ekor yang lebih panjang disebut Fut San (juga disebut Fo Shan, atau Fat San). Sedangkan Singa yang memiliki mulut moncong ke depan, tanduk yang tidak lancip, dan ekor yang lebih kecil disebut Hok San. Keduanya diambil dari nama tempat di Tiongkok.
    Tarian Barongsai ditampilkan di tengah jalan guna merayakan Hari Raya Imlek di Chinatown di Lima, Peru 5 Februari 2019. REUTERS/Guadalupe Pardo
    Barongsai ini selalu identik dengan Imlek karena menurut kepercayaan leluhur Cina, awal tahun baru adalah masanya para dewa dewi kembali ke kahyangan untuk melapor ke Kaisar Langit.

    Masa-masa tersebut dipercaya akan dimanfaatkan oleh roh-roh jahat untuk membuat kerusakan di dunia. Oleh sebab itu, orang Cina kuno mengadakan tarian barongsai yang telah diberkati di klenteng untuk mengusir setan.

    Nama barongsai sebenarnya merupakan cerminan akulturasi Cina di Indonesia. Kata 'barong' berasal dari kesenian boneka Bali yang dimainkan oleh manusia. Sedangkan 'sai' dalam bahasa Hokkian berarti singa. Nama asli kesenian ini di Cina adalah 'wu shi'.

    Barongsai atau 'wu shi' pertama konon mulai ada pada masa Dinasti Chin, sekitar abad ke tiga sebelum masehi. Ada beberapa versi sejarah Barongsai. Yang paling populer adalah kisah Nian. Nian adalah monster yang mengganggu ketenteraman penduduk. Beruntungnya, muncul naga berkepala singa yang datang untuk melindungi mereka dan mengusir Nian.

    Setelah pelindung tersebut pergi, Nian ternyata kembali untuk membalas dendam. Untuk kembali mengusirnya, orang-orang menciptakan kostum barongsai yang menyerupai sosok pelindung desa mereka. Strategi ini rupanya berhasil. Nian ketakutan, lalu meninggalkan desa tersebut untuk selama-lamanya.

    TABLOIDBINTANG | WIKIPEDIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.