Dalam keterangan resmi yang diterima Antara, Minggu, restoran berkonsep kasual ini terdiri dari tiga area, yaitu kopi katong, warung mada, dan porto bar. Tidak tanggung-tanggung, mereka juga mendatangkan koki dan rempah langsung dari Ambon.

Berlokasi di kawasan Setiabudi, Ridho dan Marcello Tahitoe memilih Bandung sebagai kota pertama dibukanya Warung Katong.

“Bandung yang masyarakatnya heterogen dan merupakan salah satu kota pelajar, jadi kami ingin tempat ini jadi melting pot tempat mereka. Sehingga punya memori baik untuk ke depannya” ujar Ridho Hafiedz.

Selain menu makanan ciri khas Maluku seperti nasi lapola dan papeda, Warung Katong juga menyediakan kopi yang menjadi budaya Maluku.

Satu hal lagi yang tidak bisa dipisahkan dari budaya Maluku, yaitu musik. Warung Katong juga menyediakan panggung untuk bermusik dengan dikurasi langsung oleh Ridho Hafiedz dan Marcello Tahitoe, memberikan akses bagi teman-teman musisi yang ingin bermusik di warung makan ini.

Warung Katong ini juga dibangun dengan membawa beberapa pesan, salah satunya adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Warung Katong menyediakan sedotan tetapi hanya ada jika diminta, serta penggunaan kantong untuk take away. Warung Katong juga ingin membawa kembali budaya “ngobrol” itulah mengapa di resto ini tidak menyediakan wifi.

“Tempat kami tidak menyediakan wifi karena hidup bukan sekadar updatestatus. Ngopi ya ngobrol," pungkas Ridho Hafiedz.

Baca juga: Mencicipi Langsung 5 Kuliner Thailand yang Viral di Indonesia