Tertarik Wisata ke Bangkai Kapal Titanic? Siap-siap Rp 1,5M

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bangkai kapal Titanic.[dailymail.co.uk]

    Bangkai kapal Titanic.[dailymail.co.uk]

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapal Titanic jadi salah satu kapal legendaris yang sejarahnya masih sering dibahas di berbagai film dokumenter. Kapal ini sempat menjadi kapal termegah pada masanya sebelum akhirnya tenggelam di Samudra Atlantik pada 15 April 1912.

    Baca juga: 2016, Wisatawan Bisa Arungi Laut dengan Titanic II

    Kapal yang membawa penumpang dari Southampton ke New York ini sendiri dikabarkan tenggelam setelah menabrak gunung es. Meski telah tenggelam 106 tahun lalu, informasi terkait kapal ini tampaknya masih menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak orang.

    Baru-baru ini Titanic Survey Expedition mengumumkan bahwa mereka akan meresmikan bangkai kapal Titanic sebagai obyek wisata pada 2019 ini. Mereka berencana untuk mengajak para wisatawan menelusuri bangkai kapal Titanic yang masih berada di bawah laut hingga sekarang.

    Bagi wisatawan yang tertarik, akan dibanderol harga hingga $105.129 atau sekitar Rp 1,5 miliar untuk menelusuri bangkai kapal tersebut. Menariknya, biaya ini ternyata sepadan dengan biaya kelas utama kapal Titanic pada masa itu.

    Sebelum menyelam, para peserta akan dibekali pelatihan terlebih dahulu yang dinamakan pelatihan Helicopter Underwater Egress. Para peserta juga diwajibkan berusia 18 tahun keatas dan memiliki kemampuan berlayar di kapal kecil, mendemonstrasikan keseimbangan dasar fleksibilitas dan mobilitas.

    Untuk menelusuri kapal Titanic, para wisatawan harus berlayar selama 11 hari terlebih dahulu dari pelabuhan St. John, Kanada. Peserta yang menyelam akan diberi waktu 7 jam untuk berkeliling melihat bangkai kapal Titanic. Tertarik?

    TABLOIDBINTANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Edy Rahmayadi Mundur dari PSSI dengan Catatan Prestasi Buruk

    Edy Rahmayadi menegaskan mundur dari jabatan ketua umum PSSI, pada 20 Januari 2019, tanpa tekanan siapa pun. Dia mangaku gagal mengurus PSSI.