5 Tempat Asyik di Jakarta Utara, Tilik Sejarah Pasar Ular

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Stasiun Tanjung Priok di Jalan Taman Statiun, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. TEMPO/Subekti

    Stasiun Tanjung Priok di Jalan Taman Statiun, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. TEMPO/Subekti




    4. Masjid Al Muqarrabien dan Gereja Mahanaim
    Wisata dilanjutkan ke Masjid Al Muqarrabien dan Gereja Mahanaim, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki. Berada bersebelahan, bahkan berbagi tembok yang sama, masjid dan gereja ini merupakan saksi bisu kerukunan umat beragama di Indonesia.

    "Tahun baru kemarin seru. Natal dan tahun baru parkir di sini (Masjid). Enggak ada masalah kita. Kita saling menjaga," ujar penjaga masjid, Endang Gunaharja (51).
    Masjid Al Muqarrabien (kanan) dan Gereja Mahanaim (kiri) berdampingan Jakarta Utara, Sabtu 5 Januari 2019 (Foto: AntaraNews)
    "Saat Lebaran di Gereja biasanya tidak ada yang beribadah. Kalaupun bertepatan, biasanya mereka beribadah selesai sholat Ied," sambung dia.

    Menurut Endang, masjid Al Muqarrabien dibangun setahun setelah gereja Mahanaim didirikan yaitu pada 1958. Masjid didirikan atas permintaan para pelaut dan karyawan perhubungan laut pada saat itu.

    Masjid kemudian direnovasi pada tahun 1975. Nama masjid Al Muqarrabien diberikan oleh ulama dan sastrawan Indonesia Hamka. Sebelumnya masjid tersebut bernama Jawatan Pelayaran.


    5. Museum Maritim
    Menyeberang Masjid Al Muqarrabien dan Gereja Mahanaim, rombongan memasuki kawasan pelabuhan Tanjung Priok. Berjalan sekitar 10 menit, akhirnya tiba di Museum Maritim Indonesia yang berlokasi di Jalan Raya Pelabuhan No.9 Tanjung Priok, Jakarta Utara.

    "Museum ini diresmikan pada 7 Desember 2018. Dulunya, ini adalah bekas kantor Pelindo," ujar Kepala Bagian Pelayanan dan Edukasi Museum Maritim, Andi Handriana.

    Selama kurang lebih satu bulan pertama dibuka, Andi mengatakan, museum ini telah dikunjungi lebih dari 1.000 orang.
    Suasana di dalam Museum Maritim, Jl Raya Pelabuhan No 9, Tanjung Priok, Sabtu 5 Januari 2019 (AntaraNews)
    Museum ini menceritakan kilas sejarah pelabuhan di Hindia Belanda mulai pada saat kolonial Belanda, termasuk sejarah pelabuhan Tanjung Priok, hingga masa setelah kemerdekaan, dengan replika barang, diorama, hingga audio visual yang menarik.

    Bahkan, museum juga dilengkapi QR code di sejumlah tempat untuk menjelaskan peristiwa yang digambarkan kepada pengunjung lewat ponsel pintar mereka. Tidak hanya itu, terdapat pula ruang simulasi kapal sehingga pengunjung dapat merasakan suasana di dalam kapal.

    Masuk museum di Jakarta Utara  ini tidak dipungut biaya alias gratis. Museum buka dari Selasa hingga Jumat pukul 09.00 sampai 16.00 WIB, sementara pada akhir pekan Sabtu dan Minggu, museum buka pukul 09.00 sampai 17.00 WIB

    Baca juga: Museum Moja, Alternatif Liburan di Jakarta yang Bikin Asyik


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H