Pasca Gempa, Strategi Wisata Inilah yang Digenjot NTB

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perahu Flaoting di Pantai Kuta Mandalika, Lombok, NTB.

    Perahu Flaoting di Pantai Kuta Mandalika, Lombok, NTB.

    TEMPO.CO, Mataram - Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat atau Dispar NTB kembali bebenah, setelah 2018 kemarin gagal mencapai angka kunjungan wisatawan sebesar 3,5 juta orang akibat terjadinya bencana gempa bumi pada 29 Juli 2018.

    Baca juga: 4 Perhelatan Budaya di NTB Masuk Kalender Wisata Nasional

    Gempa yang menimbulkan korban jiwa lebih 500  orang dan kerusakan parah lebih 70 ribu rumah penduduk, berdampak hanya dikunjungi 2,8 juta wisatawan yang terdiri dari satu juta wisatawan mancanegara dan 1,8 juta wisatawan nusantara.

    Untuk pemulihan kegiatan pariwisata di NTB, Tim Crisis Center Kementerian Pariwisata (Kemenpar) telah berhasil menyelenggarakan 280 paket wisata. Selain itu juga merintis jalur penerbangan internasional langsung ke Lombok diantaranya pemulihan penerbangan Air Asia Kuala Lumpur - Lombok yang semula tiga kali sehari setelah gempa menurun hanya sekali sehari.

    Namun, mengawali kunjungan wisatawan ke Lombok, 1 - 3 Januari 2019 kemarin telah berdatangan tiga kapal pesiar yang mengangkut keseluruhannya 1.800 orang berlabuh di Pelabiuhan Lembar Lombok Barat. Wisatawan yang datang melakukan kunjungan sehari ke destinasi di kota dan kawasan wisata Mandalika.
    Wisatawan menaiki perahu mesin menuju Gili Trawangan di pelabuhan Bangsal, Kecamatan Pemenang, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Selasa, 9 Oktober 2018. Wisatawan kembali mengunjungi kawasan wisata Gili Trawangan melalui pelabuhan Bangsal menggunakan perahu mesin dengan tarif per orang Rp15 ribu ke Gili Trawangan, Rp.20 ribu ke Gili Meno dan Rp12 ribu ke Gili Air dan R.85 ribu menggunakan kapal cepat ke Gili Trawangan. ANTARA/Ahmad Subaidi
    Tahun 2019 ini, angka kunjungan wisatawan ditargetkan bisa mendatangkan empat juta wisatawan, Dispar NTB menyiapkan empat diantara 100 kegiatan pariwisata nasional yaitu Festival Bau Nyale di Lombok Tengah, Festival Khazanah Ramadhan di Mataram, Festival Pesona Tambora di Kabupaten Dompu dan Bima serta Festival Pesona Moyo di Kabupaten Sumbawa. Untuk Festival Bau Nyale adalah satu dari 10 kegiatan pariwisata yang disiapkan Kemenpar. ''Pembiayaan calendar of event nasional pembiayaannya berasal dari Kemenpar,'' ujar Kepala Dispar NTB Lalu Moh Faozal, Jum'at 4 Januari 2019 sore.

    Selain itu, daerah tujuan wisata Gili Tramena (Trawangan, Mneo dan Air) yang terdampak parah bencana gempa tersebut akan mulai dibenahi pertengahan Januari 2019 ini. Dermaga di Gili Trawangan baru dibangun menggunakan dana sebesar Rp 15 miliar. Lainnya adalah kantor dan terminal penyeberangan di Pelabuhan Bangsal

    Dispar NTB pun menargetkan pembangunan 20 desa wisata selama tahun 2019 ini. Pembiayaannya disiapkan menggunakan dana alokasi khusus sebesar Rp 11 miliar. Ini adalah role model dari rencana jangka panjang selama lima tahun menyiapkan berdirinya 99 desa wisata.

    Saat ini sudah ada beberapa desa wisata diantaranya Stanggor dan Mas-Mas di Kabupaten Lombok Tengah atau Sesaot di Kabupaten Lombok Barat. ''Kesemuanya akan dibenahi tata pengelolaannya termasuk infrastruktur dasar dan promosi jualannya,'' kata.

    Sebelumnya, Menteri Pariwisata Arief Yahya juga menyampaikan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI)  menempatkan NTB menjadi destinasi nomor satu untuk mendongkrak potensi Indonesia agar menduduki posisi pertama di Global Muslim Travel Index (GMTI) setelah Aceh dan Jakarta.

    “Ini penghargaan tertinggi untuk NTB, karena yang menilai adalah Crescent Rating dan Mastercard yang menjadi acuan index yang paling komprehensif untuk mengukur kualitas dan kuantitas wisata halal di berbagai negara. Tak heran tahun 2016, NTB berhasil meraih the best halal destination,” ucap Arief Yahya.

    Baca juga: Bukan Cuma Menara Eiffel, Tempat Ini pun Keren di Prancis


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Edy Rahmayadi Mundur dari PSSI dengan Catatan Prestasi Buruk

    Edy Rahmayadi menegaskan mundur dari jabatan ketua umum PSSI, pada 20 Januari 2019, tanpa tekanan siapa pun. Dia mangaku gagal mengurus PSSI.