Jumat, 14 Desember 2018

Peserta Festival Baso Juara di Bandung Tak Boleh Kehabisan Stok

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang bakso melayani anak-anak jalanan yang mengantre makanan gratis di acara

    Pedagang bakso melayani anak-anak jalanan yang mengantre makanan gratis di acara "One Day For Children" pada program Indonesia Bebas Anak Jalanan 2014 di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Minggu (14/10). TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Para peserta Festival Baso Juara di Bandung  diminta panitia untuk tidak kehabisan stok selama perhelatan berlangsung. Dalam festival yang digelar Jumat-Ahad (7-9 Desember) tersebut peserta harus siap selama 12 jam. "Kalau sudah keburu habis seblum waktrunya, akan didiskualifikasi (tahun depan tidak boleh ikut)," kata ketua penyelanggara Ratih Hilwiyah di sela acara, Jumat, 7 Desember 2018.

    Ketentuan itu diberlakkan supaya festival tidak mengecewakan pengunjung atau pembeli. Dengan 40 penjual baso asal Bandung, Tasikmalaya, dan Garut hasil seleksi dan kurasi, tiap penjual diminta menyiapkan minimal 80-100 mangkuk baso.

    Festival baso rutin yang digelar setiap tahun sejak 2016 itu kini bertempat di Jalan Ir. Sukarno, samping Gedung Merdeka Bandung. Selama tiga hari akhir pekan ini, pengunjung bisa mulai menikmati aneka baso sejak pukul 9 pagi hingga 9 malam.

    Pada tahun pertama, kata Ratih, festival yang berlangsung selama dua hari itu mendatangkan sekitar 5 ribuan orang. Tahun kedua selama tiga hari melonjak hingga 50 ribu pengunjung. "Sekarang estimasi optimis minimal sama dengan tahun lalu, harapannya bisa lebih."

    Panitia mematok harga minimal seporsi baso Rp25 ribu, itu sudah termasuk makanan ringan dan teh. Harga lebih dari itu dibolehkan. Berdasarkan festival tahun lalu, kata Ratih, omzet kotor per penjual selama acara mencapai Rp580 juta.

    Sebanyak 40 penjual baso itu diantaranya seperti Mie Bakso Cipaganti, Bakso dan Batagor Yunus, Lomie Imam Bonjol, hingga bakso kekinian seperti Kedai Lezit. "Sekitar 30 persen peserta tahun lalu, selebihnya baru," kata Ratih.

    Festival digelar karena baso tergolong kuliner yang populer di kalangan masyarakat Indonesia. Pamornya kata Ratih tidak kalah oleh makanan cepat saji dari luar negeri.

    ANWAR SISWADI (Bandung)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.