Jumat, 14 Desember 2018

Libur Akhir Tahun, Kemeriahan Festival Sedesa di Sewon, Bantul

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Paguyuban Dukuh Bantul mengikuti upacara untuk peringati Maklumat 5 September 1945, di Pacar, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Rabu (15/12). Upacara dengan pembacaan Maklumat 5 September 1945 dan pembagian bendera Kraton Ngayogyakarta dan Kraton Pakualaman tersebut sebagai bentuk dukungan Keistimewaan DIY dengan menetapkan Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paduka Paku Alam IX menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur dalam RUUK DIY. ANTARA/ Wahyu Putro A

    Paguyuban Dukuh Bantul mengikuti upacara untuk peringati Maklumat 5 September 1945, di Pacar, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Rabu (15/12). Upacara dengan pembacaan Maklumat 5 September 1945 dan pembagian bendera Kraton Ngayogyakarta dan Kraton Pakualaman tersebut sebagai bentuk dukungan Keistimewaan DIY dengan menetapkan Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paduka Paku Alam IX menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur dalam RUUK DIY. ANTARA/ Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Ada agenda libur akhir tahun menarik di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 7-9 Desember dan 21-24 Desember. Dengan tajuk Festival Sedesa, di kampung itu akan digelar pagelaran budaya, kuliner, hingga jual beli barang bekas.

    Atraksi seni budaya yang akan ditampilkan, antara lain, parade: mocopat, karawitan, hadroh, tari tradisi dan kreasi. Lalu ada parade: band, jathilan, ronda, hingga festival jerami. “Banyak wisatawan luar daerah yang sudah konfirmasi akan datang dan menginap,” kata penanggungjawab acara Festival Sedesa, Fairuzulmumtaz, Rabu, 5 Desember 2018.

    Ia menjelaskan, rangkaian acara ini digelar guna memperingati ulang tahun desa yang ke 72. Kemasan menarik ini ditujukan untuk warga dan masyarakat pecinta wisata dan seni budaya. Seluruh mata acara menonjolkan potensi masyarakat desa itu sendiri.

    Pengunjung yang hobi wisata kuliner akan dimanjakan dengan menu masakan tradisional. Silakan dipilih,  Antara lain, ada ayam ingkung, sambel belut, mangut lele dan lain-lain.

    Sementara pada parade kerajinan, warga menyuguhkan  kain lurik, batik jumputan, cap batik daur ulang, tenun lurik, kerajinan patung, puzzle kayu, kerajinan kain perca, blangkon, hingga dolanan (mainan) anak.

    Meskipun ada hiruk pikuk pergelaran kuliner dan seni dan budaya, warga desa tidak lupa mengadakan diskusi buku. Salah satu buku yang didiskusikan adalah Jangan Tinggalkan Desa karya Wahyudi Anggoro Hadi, kepala desa setempat, yang dulunya aktivis lingkungan dan penggerak masyarakat desa.

    Bagi yang suka berburu barang bekas, sudah disiapkan beragam jenis pilihan, mulai dari pakaian, onderdil motor, hingga barang-barang kuno. “Ini untuk meramaikan acara dan pasti banyak yang berminat,” kata Ari Prabowo, salah satu panitia Festival Sedesa.

    Acara dipusatkan di lapangan Juru Purbo, Geneng, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Untuk mencapai tempat ini, hanya dibutuhkan perjalanan 30 menit dari pusat kota Yogyakarta.

    MUH SYAIFULLAH (Yogyakarta)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.