Jumat, 14 Desember 2018

Menyusuri Distrik Alfama, Kampung Warna Warni di Lisbon Portugal

Reporter:
Editor:

Rita Nariswari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Distrik Alfama ditandai dengan bangunan yang dipulas warna cerah. Kampung padat yang tergolong tertua di Lisbon, Portugal. (shutterstock.com)

    Distrik Alfama ditandai dengan bangunan yang dipulas warna cerah. Kampung padat yang tergolong tertua di Lisbon, Portugal. (shutterstock.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sarapan baru usai, mentari cukup hangat menjelang musim dingin di Lisbon, Portugal. Angin sudah bertiup menyemburkan udara dingin, tapi mentari masih cukup hangat. Mumpung masih pagi, destinasi kali ini adalah Distrik Alfama.

    Anggap saja kali ini akan berolahraga jalan pagi, karena menyusuri kampung tertua di Lisbon ini harus dengan jalan kaki. Memang memandang Alfama tak kalah menariknya juga dari berbagai titik dari kejauhan. Namun, sebelum melihat dari jauh, lebih baik dari dekat.

    Distrik Alfama dilewati dengan trem nomor 28. Trem jadul yang berwarna kuning khas Lisbon pun semakin memperkuat petualangan menyusuri kawasan jadul ini. Sebaiknya dengan pemandu karena jalan di dalam distrik ini kebanyakan kecil-kecil dan berbelok-belok. Jalan dari cobblestone itu meliuk di antara rumah warga yang sudah lama ditinggali. Kadang-kadang di atas kepala bergelantungan jemuran. Jalanan kadang turun, kadang naik.

    Jalan yang sempit dan jemuran yang bergelantungan di Distrik Alfama juga menjadi ciri dari kampung tertua di Lisbon ini. (shutterstock.com)

    Konon, tanpa pemandu wisata, pelancong bisa-bisa tersesat. Setelah melalui jalan yang kecil, sempat juga berada di antara rumah dengan ruang yang cukup besar. Seperti plaza mini. Dengan tangga ke berbagai arah, bagi yang pertama kali memang bingung memilih jalan. Jalur di Distrik Alfama seperti labirin. Dan setiap pojok, wisatawan akan menemukan plaza kecil, atau toko unik kadang juga kafe. Saya pun masuk dan ke luar dari tempat yang berbeda. Beruntung dengan pemandu wisata, jadi tak tersesat.

    Aslinya, perkampungan ini berada di luar dinding atau benteng kota. Identik dengan hunian untuk warga yang kurang mampu dengan lingkungan yang kumuh juga. Ketika pelabuhan di Lisbon berkembang, kampung ini pun menjadi tempat tinggal dari para buruh kapal dan para pelaut yang tetap identik dengan kelas bawah.

    Suasana di Distrik Alfama Lisbon, tangga ada di mana-mana demikian juga lukisan di dinding rumah. (shutterstock.com)

    Kemudian dengan pulasan para seniman, kampung pun tampil lebih menarik. Gang-gang pun dibikin bersih dan sejumlah pot tanaman pun memberi keindahan. Bangunan pun dicat warna merah muda, biru, dan lain-lain. Benar-benar seperti kampung warna-warni. Belum lagi, lukisan di dinding-dinding rumahnya, bikin hunian pun tampil lebih meriah. 

    Di sekeiling kampung Alfama bisa ditemukan juga berbagai bangunan lawas dengan arsitektur menarik, seperti Se Cathedral yang lokasinya berada di atas kampung ini. Ada juga Gereja Saint Anthony. 

    Baca Juga: 

    Renyah Lembut, Pasta da Nata asal Lisbon Portugal 

    Libur Akhir Tahun, Musim Dingin yang Hangat di 5 Kota Eropa Ini

    Untuk bisa mencermati Distrik Alfama dari kejauhan, bisa melangkah ke Miradouro de Santa Luzia. Akan terlihat atap-atap rumah di Alfama. Bila ingin melihatnya dengan latar belakang kastil, bisa menuju Largo da Garca. Yang tertangkap mata akan lebih lengkap. Tak hanya kastil dan Alfama, tapi pegunungan di atas Alfama, tapi Sungai Tagus yang membelah kota serta pusat kota Lisbon.

    Jika ingin menyusuri lekuk jalan dan tangga di kampung wisata ini, tampak perlu waktu seharian. Tentunya juga jangan lupa mengunjungi Museum Fado yang berada di distrik ini. Fado adalah musik khas Portugal. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.