Jumat, 14 Desember 2018

Wisman Malaysia Naik, Perlu Siapkan Wisata Halal di Danau Toba

Reporter:
Editor:

Rita Nariswari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Danau Toba, Sumatera Utara. (shutterstock.com)

    Danau Toba, Sumatera Utara. (shutterstock.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Jumlah penumpang penerbangan Malindo Air dan Air Asia dari Malaysia ke Bandara Silangit yang berada di tepi Danau Toba mengalami  perkembangan signifikan. Hal itu membuat seluruh pelaku pariwisata di Danau Toba harus bisa mempersiapkan sambutan yang sangat cocok untuk wisatawan dari Negeri Jiran tersebut.

    "Saya mendapatkan laporan dari pihak maskapai di Silangit bahwa setiap hari Jumat wisatawan Malaysia datang dengan jumlah di atas seratusan. Selain hari Jumat itu biasa di angka 90 wisatawan setiap harinya. Itu artinya pasar ini bertumbuh bagus," kata Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I Deputi Bidang Pengembangan Destinasi PariwisataKementerian Pariwisata (Kemenpar) Lokot Ahmad Enda.

    Oleh karena itu, kata Lokot, semua pelaku pariwisata di Danau Toba harus siap menyambut wisatawan tidak terkecuali bidang kuliner. "Kita harus mulai mempersiapkan sertifikasi halal di setiap restoran. Karena pertanyaan orang Malaysia yang mayoritas muslim, menanyakan hal tersebut. Restorantini halal tidak ? Mana tulisan halalnya?" kata Lokot dalam Workshop Penyusunan Paket Wisata Wonderful Huta Toba di Hotel Martin Anugrah, Danau Toba, Kamis (22/11).

    "Makanan halal itu bukan hanya soal agama, tapi juga sudah menjadi gaya hidup di dunia ini. Jadi, sudah saatnya para pengusaha restoran  di Danau Toba memikirkannya hal ini," kata Lokot seperti dikutip dari siaran pers Kemenpar. 

    Lokot memaparkan, potensi wisata halal dinilai memiliki potensi untuk berkembang mengingat banyaknya umat muslim di Malaysia. Selain itu sektor ini pun dianggap menjadi kunci penguatan ekonomi Indonesia."Di sisi lain, wisata halal juga menghadapi berbagai tantangan. Terutama dari sisi budaya, demografi, tujuan maupun alokasi biaya yang dikeluarkan untuk berwisata," ungkap Lokot.

    Sertifikasi Halal yang menjadi bagian dari wisata halal itu tidak dapat berdiri sendiri, namun menjadi bagian dari keseluruhan industri halal yang mencakup sektor finansial dan pembiayaan. Lokot menjelaskan, ekonomi Islam Malaysia bahkan dunia yang prospektif untuk dikembangkan seperti makanan halal, busana Islami, pariwisata halal, kosmetika halal dan halal obat-obatan.

    Baca Juga: Gencar Tarik Wisnus Ke Danau Toba, Bandung pun jadi Sasaran 

    "Destinasi Danau Toba secara pararel harus mempersiapkan ini. Karena indahnya Danau Toba tidak dimiliki negara-negara Timur Tengah yang mayoritas muslim. Kita bisa memulainya dari wisatawan Malaysia ini,"katanya.

    Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenpar Dadang Rizki Ratman membenarkan wisatawan muslim memerlukan kepastian makanan halal melalui label halal. Menurut Dadang, berdasarkan data dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), makanan dan belanja memiliki kontribusi yang terbesar bagi pariwisata."Karena itu perlu kesadaran pelaku usaha pariwisata untuk memiliki sertifikat halal," kata Dadang.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.