Selasa, 13 November 2018

Sisa Bangunan Kayu Situs Liyangan Awet Ribuan Tahun, Ini Sebabnya

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menggali tanah di petak ekskavasi situs Liyangan, Ngadirejo, Temanggung, Jateng, 25 November 2014. TEMPO/Suryo Wibowo.

    Pekerja menggali tanah di petak ekskavasi situs Liyangan, Ngadirejo, Temanggung, Jateng, 25 November 2014. TEMPO/Suryo Wibowo.

    Lantaran kayu, bambu, ijuk yang terbakar material panas itu tidak mendapatkan oksigen, kemudian berubah menjadi arang. Material-material organik itu pun terkonservasi secara alami. Meskipun bagian yang ditemukan tidak utuh, tetapi bentuknya masih bisa dilihat.

    “Kalau setelah terbakar pasir, bahan organik itu tidak tertutup abu, pasti habis jadi abu. Itu keuntungannya,” kata Sugeng yang juga Kepala Balai Arkeologi DIY.

    Ada dua proses yang memungkinkan benda atau bangunan dari material organik pada peradaban lampau sulit ditemukan, kecuali yang berbahan batu dan logam. Pertama, kayu biasa yang tidak terbakar akan habis karena terurai. Kedua, kayu yang terbakar dan masih mendapat oksigen sehingga akan habis menjadi abu.

    “Jadi proses konservasi alami material organik itu seperti membuat arang. Kan mineral pada kayu enggak ada. Lalu jadi arang yang sulit diurai,” kata Sugeng. Meskipun arang itu awet, sisa bangunan kayu yang ditemukan itu tak serta merta dibongkar untuk melihat struktur bangunannya secara utuh. Banyak bagian bangunan itu yang belum dibuka. “Kami tak berani bongkar. Karena lapuk.”

    Teknik konservasi yang dilakukan untuk melindungi temuan itu ada dua strategi. Pertama, perlindungan situs dari pengunjung dengan memberi pagar agar kawasan steril serta menempatkan satpam dan juru pelihara situs untuk mengawasi lokasi. Pengunjung pun diimbau tidak masuk ke area ekskavasi karena rawan dan masih dalam proses penelitian.

    Kedua, perlindungan situs secara fisik dan kimia. Perlindungan fisik dengan memasang paranet atau jaring plastic untuk mengurangi intensitas sinar matahari yang masuk dan menjaga kelembapan agar kayu tetap awet. Juga akan dipasang atap semi permanen pada sisi atas area ekskavasi. Sedangkan secara kimia akan menjalin kerja sama dengan Balai Konservasi Borobudur yang mempunyai pengalaman mengawetkan material organik.

    “Kami juga ambil contoh arangnya untuk dibawa ke Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional). Biar diketahui umur kayunya,” kata Sugeng yang hasilnya kelak memperkuat dan memperjelas data umur situs tersebut.

    PITO AGUSTIN RUDIANA (Yogyakarta)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?