Selasa, 13 November 2018

Makan Gado-gado Sambil Menikmati Debur Ombak di Uluwatu, Bali

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ulu Cliffhouse 5 November 2018 (TEMPO/Susandijani)

    Ulu Cliffhouse 5 November 2018 (TEMPO/Susandijani)

    TEMPO.CO, Jakarta - Biasanya kuliner semacam gado-gado ini kita nikmati di tepian sungai atau pinggir jalan di kota-kota di Jawa. Bagaimana jika makan gado-gado di Bali

    Baca juga: Menikmati Pelukan Tebing di Uluwatu Bali, Mandala The Rocks

    Memang tak ada topping krupuk warna warni yang biasa ditaburkan si abang gado-gado di Pulau Jawa. Tapi sebagai penggantinya adalah taburan wijen. Dan abang pembuatnya pun adalah seorang koki yang berasal dari Inggris. Gado-gado itu dibuat di dapur Ulu CliffHouse, sebuah beach club yang dibangun di atas tebing Uluwatu Bali dengan keindahan panorama lautnya.
    Gado-gado Ulu Cliffhouse 5 November 2018 (TEMPO/Susandijani)
    Rasanya? Tak jauh berbeda, Bahannya hampir sama yaitu campuran sayuran (rebusan salada air, kacang panjang, kentang kecil, tempe dan tahu goreng yang dipotong dadu kecil). Campuran ini pun diguyur saus kacang.

    Tentu ada istimewanya, karena gado-gado ini disajikan dalam piring cekung dari kayu. Lainnya, gado-gado ini bisa disantap dengan iringan suara debur ombak yang tak pernah berhenti. Dan, memnag itu memberikan pengalaman berbeda.

    Didesain oleh Shed London dan Bali’s Design Assembly, tempat berkapasitas sekitar 80-100 orang ini tampaknya mangacu pada keindahan Palm Springs yang hits di tahun 1950. Selain restoran dan bar, Ulu Cliff House juga dilengkapi workshop seni Bali, studio musik, dan tentu saja kolam renang yang dibangun sekitar 25 meter tanpa batas menghadap laut lepas.

    Di sekitarnya tersusun sofa bed lengkap dengan payung mataharinya yang bisa diatur sesuai arah matahari datang.
    Ulu Cliffhouse 5 November 2018 (TEMPO/Susandijani)
    Meski aura canggih sudah muncul di area tersebut. Tapi nuansa alam, pun tak lepas dari atmosfer tempat ini. Kesan alami pun terpotret jelas pada sebagian besar furniturnya yang menggunakan rotan dan kayu.

    Kembali pada urusan perut, Anda tak perlu khawatir. Selain gado-gado tadi, Anda pun bisa memesan berbagai jenis minuman, dan tentu saja makanan yang kebanyakan bernuansa mediteranian. Untuk starter, misalnya Anda bisa memilih Guacomole with Totopos, yaitu tortilla yang dicolekkan pada campuran alpukat segar, potongan ikan segar, dan berbagai topping.
    Half Kilo King Prawns Ulu Cliffhouse 5 November 2018 (TEMPO/Susandijani)
    Kemudian bisa lanjut dengan Crab Hush Puppy, hidangan kepiting yang dicampur dan digoreng dan dicampur dengan salsa buah manga, ditambah lime, cabai, jahe dan mayo jagung manis. Atau Half Kilo Kings Prawns. Rasa udangnya manis dingin segar, terasa perasan lemon, bawang putih dan dill mayones.

    Semua hidangan itu bisa diorder di bagian mana pun Anda berada di Ulu Cliff House ini. Paviliun, kolam renang, teras atau pun di Ocean Deck. Ocean deck ini lokasinya berada di posisi dasar tebing beach club itu, Anda harus menapaki beberapa anak tangga menyusur  tebing di atas pantainya.
    Ullu CliffHouse (dok Ullu Cliffhouse)
    Jangan lupa pesan air kelapa langsung dalam buahnya. Udara panas yang terik akan ternetralisir oleh minuman khas pantai ini.

    Menikmati kuliner di pinggir laut memang tak akan pernah cukup satu jenis hidangan. Seperti debur ombak, di Bali, hasrat mengemil pun tak pernah berhenti.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?