Selasa, 13 November 2018

Festival Budaya Muwaghei, Upacara Angkat Saudara di Lampung Timur

Reporter:
Editor:

Rita Nariswari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim dalam Festival Budaya Muwaghei 2018. Antara/Muklasin

    Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim dalam Festival Budaya Muwaghei 2018. Antara/Muklasin

    TEMPO.CO, Jakarta - Festival Budaya Muwaghei atau Angkat Saudara merupakan sebuah tradisi pemberian gelar oleh masyarakat adat Lampung dengan suku lain yang ada di daerah ini seperti Jawa, Batak, Banten, Bugis, Sunda, Bali dan Palembang. Masyarakat adat asal Jawa diberi Gelar Raden Puja Kesuma, warga dari Bali diberi gelar Raden Putra Dewata Agung, warga Bugis diberi gelar Raden Putra Daeng.

    Kemudian, warga Batak diberi gelar Raden Putra Sorimangaraja atau Sri Maharaja, warga Banten diberi gelar Raden Tatar Pasundan, sedangkan Suku Sunda diberi gelar Raden Tatar Pajajaran, dari Padang diberi gelar Raden Putra Pagaruyung, dan masyarakat adat dari Palembang diberi gelar Raden Putra Sriwijaya.

    Gelar kehormatan juga diberikan kepada jajaran pejabat di kabupaten ini. Upacara pemberian gelar adar ini berlangsung di halaman kantor Pemkab Lampung Timur di Sukadana, Sabtu, 3 November 2018.

    Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim yang bergelar Ratu Pemangku Bumi Tuah Bupadan menyatakan gelar Festival Budaya Muwaghei merupakan wujud tekad pemerintah daerah setempat untuk melestarikan adat dan budaya yang ada di Lampung Timur.

    "Pemerintah Kabupaten Lampung Timur di bawah kepemimpinan saya dan Pak Zaiful berkomitmen tinggi melestarikan adat dan budaya yang ada di Lampung Timur," kata Chusnunia Chalim. Ia menambahkan Festival Budaya Muwaghei juga merupakan perayaan dan ungkapan syukur atas adanya beragam potensi yang hidup di Lampung Timur.

    Baca Juga: 

    6 Pulau Destinasi Akhir Pekan di Pesawaran Lampung

    Kunjungan Wisatawan Asing ke Lampung Naik 58%. Ini Rahasianya. 

    Chusnunia mengungkapkan di daerah ini tinggal warga asli Lampung dan warga pendatang beragam suku. Warga asli dan pendatang hidup rukun, hidup berdampingan dan  terjadi akulturasi budaya. "Hal itu karena  keluarga asli Lampung menerima kehadiran keluarga pendatang dengan tangan dan hati terbuka, sehingga silaturahmi yang baik itu wajib disyukuri bersama".

    Sehubungan itu pula, Chusnunia meminta warga pendatang membalasnya dengan berterima kasih, menghormati, mau tahu, mau mempelajari adat dan budaya masyarakat asli. Warga pendatang juga diharapkan menjadi warga Lampung Timur yang seutuhnya.
    "Yang pendatang harus berterima kasih, dengan mau mengerti, mau mengetahui adat dan budaya warga asli, sehingga masyarakat bisa menyatu," paparnya.

    Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Lampung Timur Almaturidi menjelaskan  daerah ini menggelar berbagai rangkaian festival seni, budaya, dan pariwisata untuk menggaet kunjungan wisatawan.  Pemkab Lampung Timur dalam dua tahun terakhir terus menggelar rangkaian berbagai festival seni, budaya, dan pariwisata untuk mempromosikan keindahan dan keunggulan daerah ini kepada para wisatawan nusantara dan mancanegara karena menargetkan menjadi salah satu daerah destinasi wisata andalan di Lampung maupun Indonesia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?