Sabtu, 17 November 2018

Kerap Disambangi, Sungai Siak Perlu Dipasangi Rambu Bahaya Buaya

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menonton seekor buaya liar terjerat ban motor yang berjemur di pasir sungai yang surut di Palu, Sulawesi Tengah, 4 Desember 2016. BKSDA mengalami kesulitan karena ketiadaan peralatan pendukung. ANTARA/Basri Marzuki

    Warga menonton seekor buaya liar terjerat ban motor yang berjemur di pasir sungai yang surut di Palu, Sulawesi Tengah, 4 Desember 2016. BKSDA mengalami kesulitan karena ketiadaan peralatan pendukung. ANTARA/Basri Marzuki

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau minta Pemerintah Kota Pekanbaru memasang rambu peringatan bahaya buaya di Sungai Siak. Tujuan rambu itu adalah untuk meningkatkan kewaspadaan warga yang berada di kawasan sungai dalam habitat buaya itu.

    "Perlu ada kesadaran dari pemerintah mulai dari kelurahan dan kecamatan untuk memasang rambu peringatan di Sungai Siak, karena Sungai Siak itu memang habitatnya buaya," kata Kepala Bidang Wilayah I BBKSDA Riau Mulyo Hutomo kepada Antara di Pekanbaru, Kamis, 1/11. Belakangan warga sekitar memang melaporkan kemunculan buaya di sungai itu dalam sepekan terakhir.

    Mulyo Hutomo mengatakan rambu-rambu itu penting untuk mengingatkan warga agar waspada saat berada di sekitar habitat buaya. Di Riau ada empat sungai besar utama tempat buaya biasa muncul, yakni Sungai Rokan, Siak, Kampar dan Indragiri.

    Umumnya buaya yang kerap nyelonong itu adalah buaya muara (Crocosylus porosus) dan buaya senyulong (Tomistima sp) yang mendiami sungai-sungai tersebut. Buaya muara biasanya hidup dan berkembang lebih optimal pada muara-muara sungai. Semakin ke hulu populasinya semakin kecil.

    Sementara buaya jenis senyulong mendominasi bagian hulu sungai. "Yang di Sungai Siak itu buaya senyulong. Cirinya adalah mulutnya panjang dan lebih kecil dari buaya muara. Dia sebenarnya pemakan ikan," kata Hutomo.

    Ia mengatakan sebenarnya buaya sangat jarang sekali sengaja menyerang manusia. Kebiasaan manusialah yang menurut dia kerap memicu serangan buaya. "Dalam pemantauan kami serangan buaya terjadi secara insidentil, biasanya karena masyarakat tidak menyadari wilayah perairan tersebut habitat buaya."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.