Selasa, 13 November 2018

Di Shibuya Tokyo, Tak Hanya Belanja tapi juga Mengulik Sejarah

Reporter:
Editor:

Rita Nariswari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pepohonan yang rindang berada di sekeliling Kuil Meiji Jingu yang berada di Shibuya, Tokyo. Tempo/Rita Nariswari

    Pepohonan yang rindang berada di sekeliling Kuil Meiji Jingu yang berada di Shibuya, Tokyo. Tempo/Rita Nariswari

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebanyakan wisatawan Indonesia akan menyukai Tokyo. Buktinya, tak terhitung selebritas pun mengunjungi kota ini untuk liburan. Bahkan pasangan selebritas Maia Estianty dan Irwan Mussry memilih kota ini untuk  memulai kehidupan baru. Senin, 29 Oktober 2018, pasangan ini mengucapkan ijab kabul di Masjid Tokyo Camii & Turkish Culture Center.

    Tokyo memang menawarkan banyak hal bagi wisatawan. Bagi perempuan yang doyan berbelanja, ada lokasi yang bisa diburu, sementara yang senang menelisik sejarah ada banyak tempat dengan nilai historis tinggi dan dalam kondisi terawat. Nah, bila ingin melakukan kedua hal yakni melakoni wisata sejarah dan belanja di satu lokasi, pilihannya bisa ke Shibuya. 

    Shibuya memang dikenal dengan kawasan berbelanja. Dari toko-toko barang bermerek internasional hingga melipir ke Harajuku dan temukan gerai-gerai kaki lima yang cocok bagi yang memiliki dompet tipis. Nah, di balik gedung tinggi dan keramaian itu, wisatawan juga bisa menemukan ketenangan dan nilai-nilai sejarah di Kuil Meiji Jingu.

    Bila ingin belanja lebih dulu, sebaiknya turun di stasiun Shibuya. Putar-putar dulu, mungkin selepas makan siang baru mengunjungi Kuil Meiji. Tapi jika tujuan pertama kuil, cari kereta dengan stasiun Harajuku. Karena kuil berada tepat di sebelah stasiun Harajuku dari jalur JR Yamanote. Jadi begitu ke luar stasiun, terlihat gerbang selatan dari kuil.

    Gerbang tori superbesar yang menjadi pemisah antara keramaian khas Shinjuku dan Shibuya dengan ketenangan kuil Shinto, Meiji Jingu di Tokyo. (gotokyo.org)

    Bila datang dari arah Shibuya yang dimasuki adalah pintu utara dari kuil. Memasuki kawasan kuil, nikmati kesegaran udara dan lingkungan yang asri. Berbeda dengan suasana di Shibuya, Harajuku maupun Shinjuku yang penuh dengan keramaian. Kuil yang berada dalam Yoyogi Park ini merupakan kuil Shinto yang dipersembahkan Kaisar Meiji untuk istrinya. Dibangun pada 1920, ada sebanyak 100 ribu pohon yang ditanam tak mengherankan kesegaran udara langsung terasa selepas gerbang torii.

    Memasuki gerbang torii yang superbesar, keramaian pun diganti dengan keheningan. Melangkah lah dengan tenang selama 15 menit di jalur yang lebar yang muat wisatawan dalam jumlah banyak.

    Sebelum memasuki kuil, ada semacam sumur untuk membasuh tangan dengan gayung dari bambu, semacam ritual membersihkan diri. Baru kemudian saya melangkah dan langsung terpana di gerbang utama kuil yang diapit dengan pepohonan. Terkesan begitu klasik, cuma ada sepasang pengantin yang hendak melakukan upacara, jadi saya menahan langkah. 

    Baca Juga: 

    Makin Banyak Turis Indonesia yang ke Jepang, Ini yang Paling Dicari

    Mengenang Masa Edo di Kurashiki Bikan Jepang

    Sebaiknya datang di hari Minggu, bila beruntung bisa bertemu dengan pasangan akan akan menikah. Keseruannya tentu akan berbeda. Selain itu juga usahakan untuk berkunjung di bulan Juni, ketika bunga-bunga di taman tengah mekar. Foto-foto pun dijamin terlihat lebih indah. Selain kuil, dan taman, kawasan ini juga museum yang belum lama ini mengalami renovasi. Kuil biasanya buka dari pukul 5.00 hingga pukul 18.00, tapi biasanya setiap bulan berbeda, ada pergeseran 10 menit hingga 1 jam. Jadi, sebaiknya cek jadwal terlebih dahulu jika ingin datang di pagi atau sore hari. 

    Selepas mencermati kuil, wisatawan bisa rehat sejenak di Yoyogi Park, sebelum kembali menyusuri Harajuku, Shinjuku, atau Shibuya untuk berburu oleh-oleh atau kuliner. Jadi belajar sejarah belanja pun dinikmati tanpa harus berpindah lokasi. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?