Batik Tanah Liat, Batik Unik Khas Ranah Minang

Reporter:
Editor:

Rita Nariswari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wirda Hanim, pemilik usaha Batik Tanah Liek di Padang dengan koleksi batiknya. Tempo/Febrianti

    Wirda Hanim, pemilik usaha Batik Tanah Liek di Padang dengan koleksi batiknya. Tempo/Febrianti

    Di Pariangan Wirda berhasil melihat beberapa selendang tua. Tekadnya semakin bulat untuk membuat kain batik tanah liek sebelum benar-benar punah. Saat itu ia sudah memiliki usaha kerajinan bordir di Padang yang ia rintis sejak 1986. Batik adalah hal baru yang belum ia kenal sama sekali, hingga ia pun ke Yogyakarta untuk belajar membatik.

    Wirda juga mengundang seorang pengajar batik dari Yogjakarta ke Padang yang dikontraknya tiga bulan. Eksperimen membuat perwarnaan dari tanah liat gagal, hingga ia uji coba warna-warna kimia untuk mencari warna yang sesuai dengan batik tanah liek . “Saya mencoba ke sepuluh lembar kain yang ukurannya masing-masing dua meter, akhirnya saya mendapatkan warna batik tanah liek, meski dari sepuluh lembar hanya dua lembar yang bagus,” katanya.

    Seorang pengrajin tengah membatik dengan menggunakan pewarna alam dari tanah liat di Padang. Batiknya dikenal sebagai batik tanah liek. Tempo/Febrianti

    Sejak itu ia mulai memproduksi batik tanah liek dari bahan sintetis. Pada  2000 Wirda diutus Kantor Wilayah Departemen Perindustrian dan Perdagangan Sumatra Barat mengikuti pelatihan pewarnaan alam di Yogyakarta selama sebulan. Sejak itulah Wirda kemudian mencoba bahan alami untuk batiknya. Praktek awalnya dengan bahan tanah liat saat ia melihat sebongkah tanah coklat tua dari galian sumur di dekat rumahnya.

    “Di sekitar rumah saya ini dulunya kan sawah, jadi tanahnya bagus, tanah payau, saya rebus dan diaduk dengan tawas lalu dimasukkan kain putih bahan dasar batik ke dalamnya,” kata Wirda. Akhirnya ia berhasil memproduksi batik dengan pewarnaan tanah liek. Ia tak hanya memakai tanah liat sebagai bahan baku , tetapi juga gambir, kulit rambutan, kulit jengkol, dan kulit bawang.

    Motif batik yang ia gunakan persis sama dengan selendang batik kuno yang ia dapatkan dokumentasinya. Ada beberapa bentuk burung hong, ranting, batang kayu, kipas dan ada juga kuda terbang. “Saya bukan ahli motif batik, motifnya sangat banyak dan rumit, karena kain batik itu dulunya dari Cina, kemungkinan ini juga motifnya khas motif Cina,” kata Wirda.

    Baca Juga: Pekan Batik Nusantara di Pekalongan Diikuti 15 Negara

    Karena pembuatannya eksklusif, lama dan butuh penjemuran di bawah sinar matahari yang tepat agar warnanya bisa keluar, batik tanah liek ini harganya juga cukup mahal. Namun Wirda tidak mau menyebutkannya.  Pembelinya biasanya kolektor. Untuk harga yang lebih terjangkau, Wirda juga membuat kain batik tulis menggunakan pewarnaan sintetis yang sama dengan warna dan motif selendang batik tanah liek. Ia juga memproduksi batik cap dan batik cetak dengan motif batik tanah liat.

    FEBRIANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.