Senin, 17 Desember 2018

Tak Ada Erupsi, Berikut 6 Fakta Menarik Gunung Salak

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wisatawan memasuki kawasan Bumi Perkemahan Citalahab di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa barat, (11/10). Kawasan yang berubah menjadi Taman Nasional semenjak 1992 ini memiliki luas sekitar 40.000 ha. Taman Tempo/Fardi Bestari

    Seorang wisatawan memasuki kawasan Bumi Perkemahan Citalahab di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa barat, (11/10). Kawasan yang berubah menjadi Taman Nasional semenjak 1992 ini memiliki luas sekitar 40.000 ha. Taman Tempo/Fardi Bestari

    3. Taman Nasional Gunung Halimun-SalakCanopy Trail di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Bogor, Jawa Barat, (11/10). Canopy Trail yang mempunyai panjang 120 meter dan tinggi 25 meter ini dibangun pada tahun 1998 oleh Japan International Corporation Agency (JICA). Tempo/Fardi Bestari

    Kawasan konservasi ini merupakan hutan hujan tropis pegunungan terluas di Pulau Jawa. Dengan luas 113.357 hektare, taman nasional ini terletak di tiga wilayah kabupaten: Lebak, Sukabumi, dan Bogor, di Provinsi Jawa Barat dan Banten.

    Kawasan hutan Gunung Halimun dan Salak dihubungkan oleh hutan koridor yang membentang sejauh 11 kilometer dari barat ke timur. Secara administratif, hutan koridor terletak di wilayah Kabupaten Bogor dan Sukabumi.

    Di Bogor, wilayah koridor meliputi dua desa dalam dua kecamatan, yakni Desa Purasari di Kecamatan Leuwiliang dan Desa Purwabakti di Kecamatan Pamijahan. Sementara itu, wilayah koridor yang ada di Sukabumi terletak di Desa Cihamerang, Cipeuteuy, dan Kabandungan, ketiganya di Kecamatan Kabandungan.

    Berdasar data pada 2012, hutan Hutan koridor, yang terdiri atas hutan primer seluas 268,56 hektare dan hutan sekunder seluas 759,06 hektare, punya peran sangat penting sebagai tempat hidup 14 spesies mamalia dan 66 spesies burung (15 spesies di antaranya dilindungi, seperti elang Jawa). Beberapa jenis primata tinggal di kawasan ini, seperti owa Jawa, surili, lutung Jawa, dan monyet ekor panjang.

    Hutan koridor ini juga amat menentukan kelangsungan hidup satwa di kedua gunung, terutama owa Jawa (Hylobates moloch) dan macan tutul (Panthera pardus melas). Satwa endemik itu merupakan spesies yang terancam punah dengan status dilindungi karena populasinya yang terus menyusut.

    4. Kursus alam bebas dan perkemahan

    Di lereng Gunung Salak terdapat beberapa lokasi yang bisa digunakan kegiatan khas alam bebas, yakni berkemah dan untuk praktik bertahan di alam bebas.

    Di kawasan Cagar Alam Sukamantri terdapat arena pelatihan survival yang dihelat perusahaan wisata alam bebas. Dalam paket ini diajarkan bagaimana bertahan hidup dan bergerak di dalam hutan hujan tropis, melakukan pertolongan pertama, navigasi daratan, dan bagaimana menemukan air minum dan membuat tempat berteduh selama tersesat di hutan.

    Tingkat tantangan untuk aktivitas ini adalah antara mudah dan sedang. Peserta, misalnya, akan diaajak menjelajah hutan pegunungan. Selama penjelajahan ini, instruktur akan mengajarkan praktek bertahan hidup di hutan. Misalnya, bagaimana bergerak dengan aman di dalam hutan, mengidentifikasi tanaman yang bisa dimakan dan yang beracun, menghasilkan air minum dari tetumbuhan, dan membuat api.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".