Senin, 22 Oktober 2018

Yuk, Tamasya Sate dan Nasi Goreng di UGM

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aneka macam sate digelar dalam Festival Sate dan nasi goreng di Grha Saba Pramana, UGM, Yogyakarta, 9-10 Oktober 2018. TEMPO/Muh. Syaifullah

    Aneka macam sate digelar dalam Festival Sate dan nasi goreng di Grha Saba Pramana, UGM, Yogyakarta, 9-10 Oktober 2018. TEMPO/Muh. Syaifullah

    TEMPO.CO, Jakarta - Fakultas Teknologi Pertanian UGM menggelar Festival Sate dan Nasi Goreng di  Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, Bulaksumur, selama dua hari, 9-10/10. Di perhelatan ini pengunjung bisa menikmati aneka macam sate atau nasi goreng sesuai selera.

    Mengunjungi satu per satu peserta parade sate, tampak beragam bahan digunakan mereka. Ada yang menggunakan sapi, ayam,  kambing, jamur, cumi-cumi, ikan dan bahan lainnya. Setiap daging diolah dengan bumbu dan cara  yang berbeda. “Saya memilih menggunakan gas tabung mini untuk membakar cumi-cumi,” kata Farida, salah satu peserta.

    Sementara di seksi nasi goreng, disajikan bermacam jenis. Pengunjung bagai dimanjakan selera mereka, karena berbagai tenant menyajikan menu berbeda. Ada nasi goreng seafood, nasi goreng Padang, nasi goreng rendang, nasi goreng beras jagung hingga nasi goreng kambing.

    “Industri kuliner Indonesia mempunyai potensi kuat untuk berkembang. Jadi, perlu ada sinergi pemerintah, akademisi, dan pelaku industri agar kuliner semakin berkembang,” kata Rektor UGM Panut Mulyono, mengomentari penyelenggaraan parade kuliner tersebut.

    Pelestarian kuliner asli Indonesia, kata dia, wajib dikembangkan untuk mendukung kemajuan pariwisata. Sebab, industri kreatif kuliner memberikan kontribusi sekitar 30 persen dari total pendapatan sektor pariwisata.

    Adapun menurut Murdjiati Gardjito, peneliti senior Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, di Indonesia terdapat 252 ragam sate.  Dari jumlah tersebut 175 sate dapat ditelusuri asal-usulnya, dan 77 tidak dapat ditelusuri.

    Dari 175 ragam sate yang diketahui asal usulnya tersebut, tersebar hampir di seluruh Indonesia, kecuali di Lampung dan Mandar. Di dua daerah ini tidak ada sate sebagai makanan tradisionalnya.

    Acara ini disambut gembira warga, karena mereka bisa menikmati menu kesukaan dengan banyak pilihan. "Kalau mau menikmati aneka sate dan nasi goreng tanpa harus pindah lokasi, ini cocok," kata Suryanto, salah satu pengunjung. Ia juga senang karena dapat mengenali aneka makanan Nusantara.

    Pengunjung dapat menebus satu porsi sate dengan merogoh kocek, antara Rp 20-25 ribu untuk sate.

    MUH. SYAIFULLAH (Yogyakarta)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.