Selasa, 23 Oktober 2018

Pariwisata Lombok Normal Kembali Saat Musim Liburan Akhir Tahun

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah perahu naga yang digunakan untuk menampung wisatawan saat berlibur di pulau wisata Gili Air di Kabupaten Lombok Utara yang tergabung Gili Cares, (9/7). Tempo/SUPRIYANTHO KHAFID

    Sebuah perahu naga yang digunakan untuk menampung wisatawan saat berlibur di pulau wisata Gili Air di Kabupaten Lombok Utara yang tergabung Gili Cares, (9/7). Tempo/SUPRIYANTHO KHAFID

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelaku wisata di kawasan terdampak gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), tengah berbenah pasca-bencana melanda Agustus lalu. Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Muhammad Faozal mengatakan kondisi pariwisata Lombok diperkirakan bakal normal menjelang akhir tahun dengan memanfaatkan momentum liburan akhir 2018.

    "Saat ini statistik kunjungan wisatawan mulai bertumbuh sekitar 30-40 persen pada September kemarin," kata Faozal saat dihubungi Tempo pada Minggu, 7 Oktober 2018. Angka statistik pertumbuhan ini dinilai lumayan ketimbang bulan sebelumnya setelah gempa melanda. Pada Agustus, lata Faozal, angka kunjungan pariwisata Lombok anjlok menurun sekitar 80 persen.

    Adapun okupansi hotel di kawasan trio Gili seperti Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air mendekati nol dalam waktu beberapa pekan. Masa-masa sulit pasca-bencana itu pun telah dilalui. Saat ini, kata Faozal, Dinas Pariwisata NTB tengah memasuki masa pemulihan.

    "Yang kami lakukan saat ini adalah normalisasi aktivitas pendukung pariwisata," ujarnya. Selain itu, bagian pemasaran dinas terkait juga telah melalukan promosi wisata khusus daerah tidak terdampak bencana. Misalnya kawasan wisata Mandalika.Wisatawan melakukan olahraga snorkeling di kawasan wisata Pulau Gili Air, Nusa Tenggara Barat, 21 APril 2017. Kepulauan Gili Meno yang menawarkan keindahan bawah laut itu menjadi salah satu destinasi wisata alam yang banyak diminati para wisatawan. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    Menurut Faozal, ada 40 persen destinasi yang diasumsikan tidak terdampak bencana. Adapun kawasan wisata yang mendekati lumpuh akibat terimbas gempa, seperti trio Gili dan Mataram, sudah mulai merangkak pulih. "November nanti adalah fase yang kita dorong untuk mulai normal."

    Sementara itu, Kepala Tim Crisis Center Kementerian Pariwisata Guntur Sakti mengatakan dalam masa normalisasi, Dinas Pariwisata Lombok dan pihak terkait perlu memperhatikan tiga hal.

    "Pertama pemulihan sumber daya manusia," kata Guntur, Minggu siang. Pemulihan SDM ini meliputi penyembuhan trauma kepada para pekerja di sektor pariwisata. Selain itu, memberikan relaksasi di bidang keuangan kepada pelaku industri wisata. Dalam hal ini, ujar Guntur, Otoritas Jasa Keuangan sudah menetapkan regulasi.

    Kedua, ujar dia, ialah pemulihan destinasi, yang meliputi perbaikan infrastruktur yang rusak akibat gempa. Fase ini terbagi atas fase rehabilitasi dan rekonstruksi. "Untuk hal ini kami melakukan monitoring progres surat Menteri Pariwisata dan dilaporkan secara periodik," ucapnya.

    Ketiga, kata Guntur, pemulihan pemasaran pariwisata. Saat ini, Kemenpar dan dinas setempat sedang kembali menggelar famtrip, menggelar acara, dan road show dalam serta luar negeri untuk
    menggaungkan lagi pariwisata terdampak bencana di NTB.

    Menteri Arief Yahya pun disebut telah membentuk grup khusus NTB Bangkit. Grup ini berguna sebagai media komunikasi dan monitoring program pemulihan di sektor pariwisata. "Arahan Menpar, seluruh program pemulihan di sektor pariwisata harus selalu dipantau, di laporkan, dan dikawal dengan ketat," tutur Guntur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.