Asap Rokok Penyebab Hilangnya Lukisan Prasejarah dalam Gua Karst

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung memperhatikan batu-batu di dalam Gua Salendrang, Kabupaten Maros, Sulsel, Minggu 12 oktober 2014. Gua Salendrang ini 1 di antara 7 Gua di sulsel yang ditemukan lukisan prasejarah berusia sedikitnya 40.000 tahun usia karya seni itu sebanding dengan seni batu tertua yang diketahui dari Eropa. TEMPO/Iqbal Lubis

    Pengunjung memperhatikan batu-batu di dalam Gua Salendrang, Kabupaten Maros, Sulsel, Minggu 12 oktober 2014. Gua Salendrang ini 1 di antara 7 Gua di sulsel yang ditemukan lukisan prasejarah berusia sedikitnya 40.000 tahun usia karya seni itu sebanding dengan seni batu tertua yang diketahui dari Eropa. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Samarinda - Peneliti gua karst dari Institut Teknologi Bandung Pindi Setiawan mengatakan ada ratusan lukisan prasejarah yang hilang akibat ulah manusia. Saat ini dia tengah melakukan penelitian gua-gua dan karst yang membentang dari Sangkulirang hingga Mangkalihat di Kabupaten Berau dan Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.

    “Nafas manusia, asap rokok, asap kendaraan, dan asap pabrik dapat mempercepat hilangnya lukisan di gua tersebut,” kata Pindi di Samarinda, Rabu, 3/10. Dia menyarankan agar dibuat aturan khusus agar kawasan itu  mendapat perlindungan,

    Sebelumnya saat menjadi pembicara dalam diskusi Kelompok Terarah tentang Rencana Induk Pengelolaan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, ia juga menyatakan gua-gua dalam karst yang mengandung banyak lukisan prasejarah puluhan ribu tahun lalu, dapat lekas rusak bila tidak ada kawasan penyangga.

    Pindi memulai penelitian Karst Sangkulirang-Mangkalihat sejak tahun 1995. Hingga sekarang, kata dia, sudah ada ratusan imaji gambar prasejarah yang hilang. Lukisan prasejarah itu berusia 10 ribu tahun, tapi ketika ada aktivitas manusia di sekitarnya, hanya dalam waktu 25 tahun sudah hilang.

    Manajer Senior The Nature Conservancy (TNC) untuk Provinsi Kalimantan Timur Niel Makinuddin mengatakan, salah satu upaya perlindungan kawasan penyangga ekosistem karst bisa dilakukan melalui kelembagaan dan kerja sama antaradesa. “Baik yang berada di dalam maupun di sekitar kawasan karst,” kata dia.

    Kampung Merabu dengan hutan desanya adalah salah satu contoh keberhasilan pemanfaatan karst untuk menggerakan perekonomian desa lewat pariwisata. Sebab pariwisata adalah pilihan kebijakan dan pengikat banyak kepentingan, baik ekonomi maupun kepentingan konservasi yang relatif sedikit kerusakannya.

    “Merabu merupakan contoh terbaik bagaimana masyarakat mempertahankan karst, tapi tetap dapat penghidupan dari kawasannya," ucap Niel.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H