Jumat, 14 Desember 2018

Lapu-lapu City, Ini Kota Gitar di Filipina Sejak 1919

Reporter:
Editor:

Rita Nariswari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana salah satu toko yang membuat dan menjual gitar di Lapu-lapu City, Pulau Mactan, Filipina. TEMPO/Rita Nariswari

    Suasana salah satu toko yang membuat dan menjual gitar di Lapu-lapu City, Pulau Mactan, Filipina. TEMPO/Rita Nariswari

    TEMPO.CO, Jakarta - Meski dalam waktu pendek, mampir ke kawasan industri rumahan khusus gitar, Lapu-lapu City di Pulau Mactan, Filipina, rasanya tidak boleh dilewatkan. Maklum, pulau yang bisa dicapai dengan penerbangan sekitar satu jam dari Manila melalui Mactan-Cebu International Airport ini terkenal dengan dua hal dalam soal oleh-oleh, yakni olahan mangga, yang kebanyakan dibuat manisan kering dengan rasa jempolan, dan gitar. 

    Apalagi lokasi saya dan kawan-kawan memang tidak jauh dari kawasan industri gitar rumahan, yang terletak di Pajac-Maribago Road. Hanya dalam hitungan 20-30 menit, Lapu-lapu bisa dicapai dari daerah pantai yang terakhir saya kunjungi di Punta Engano Road. Jadi kenapa tidak mampir sekalian? Setelah menikmati pantai dengan pasir putih yang lembut dan memang banyak diburu turis, meski dalam waktu yang singkat, saatnya mencermati kreasi warga setempat, yang juga membuahkan keindahan.

    Hawa panas khas pantai terus menemani sepanjang jalan. Maklum, Maribago masih daerah pantai, tempat hotel-hotel bintang berderet. Hingga tibalah saya di sebuah rumah dengan halaman yang luas. Terasa sepi, kebetulan saya singgah saat tak ada kunjungan turis lain. Hanya tampak tiga pekerja di ujung halaman asyik dengan kayu-kayu, membentuk sebuah gitar. Yang saya kunjungi adalah Alegre Guitar Factory di Pajac-Maribago Road, berada di tengah Pulau Mactan.

    Seorang pengrajin tengah membuat gitar khas Lapu-lapu City. Kota yang menjadi pusat pembuatan gitar sejak 1919 di Filipina. TEMPO/Rita Nariswari

    Para pria muda itu memadukan bagian demi bagian, kemudian merapikan dan menghaluskannya. Kayu yang digunakan beragam, bisa berupa kayu dari pohon nangka, yang memang banyak ditemukan di pulau ini, ada juga dari kayu impor dari negara lain. Yang telah rampung digantung, tinggal dipasang senar dan dipadukan nadanya. Mereka umumnya generasi ketiga, yang turun-temurun meneruskan kemampuan para orang tuanya membuat gitar sejak 1919.

    Saatnya beranjak ke ruang pamer, tempat memajang gitar yang sudah siap dibawa pulang pembeli. Ternyata yang dibuat tak hanya gitar, tapi juga beragam alat petik. Dari ukuran kecil sampai besar. Mulai yang sederhana hingga modern. Pilihannya bisa berupa ukulele, mandolin, bas, dan lain-lain. “Bisa juga dibuat sesuai dengan permintaan. Baik dari jenis kayu, bentuk, maupun dekorasinya,” ujar salah satu staf di ruang pamer. Atau bila Anda ingin membuatnya spesial, tapi tidak bersedia menunggu lama, bisa hanya dengan menambahkan nama Anda pada alat petik yang dibeli.

    Bila hanya ingin sekadar membeli suvenir, ada juga gitar yang tak bisa berbunyi alias yang berupa gantungan kunci. Tentu yang satu ini harganya paling murah. Sebab, harga gitar berkualitas bagus yang umumnya dijual ke mancanegara ini berada di kisaran 1.500 peso hingga 20 ribu peso atau sekitar Rp 1,2-16 juta. Dengan waktu yang singkat, hanya satu gerai yang bisa saya singgahi. Sebenarnya, karena merupakan kawasan industri gitar rumahan, tak jauh dari Alegre ada gerai dan perajin yang lain, seperti Ferangeli Guitar Handcrafter, Guitar Master, dan Guitar’s Factories.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.