Minggu, 18 November 2018

Merinding Dengar Cerita Algojo di Huta Siallagan Pulau Samosir

Reporter:
Editor:

Rita Nariswari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Batu kursi persidangan menjadi ciri dari Kampung Adat Siallagan yang berada di Ambarita, Kabupaten Samosir. (shutterstock)

    Batu kursi persidangan menjadi ciri dari Kampung Adat Siallagan yang berada di Ambarita, Kabupaten Samosir. (shutterstock)

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada banyak pelajaran di masa lalu, dan ada juga catatan yang membuat orang bisa merinding. Seperti ketika saya mengunjung Huta Siallagan, di Pulau Samosir, Sumatera Utara. 

    Huta Siallagan adalah kampung adat Suku Batak Toba yang masih bertahan di Ambarita, Kabupaten Samosir. Terdiri dari 8 rumah adat Suku Batak Toba, kemudian batu kursi persidangan - tempat raja dan para pejabat memutuskan hukuman untuk seorang yang melakukan kejahatan. Kemudian, ada juga makam Raja Siallagan dan turunannya.  

    Yang paling menarik tentunya adalah batu kursi persidangan. Dan inilah yang menjadi ciri khas dari Huta Siallagan atau Kampung Sialagan ini. Berada di sebuah benteng yang tidak terlalu tinggi, wisatawan akan masuk ke pintu gerbang yang hanya muat untuk satu orang. Di depan mata, langsung terlihat deretan rumah adat Batak Toba yang tiap ukirannya penuh makna. Rumah bolon namanya, hanya ada sekitar 8 rumah di sana.

    Rumah adat Batak kuno di kampung Siallagan, Ambarita, Samosir, Sumatera Selatan. TEMPO/Tony Hartawan

    Tak jauh dari deretan rumah, ada sebuah pohon, di bawahnya ada meja dan kursi-kursi dari batu. Nah, itulah batu kursi persidangan. Tempat ini,  raja dan para petinggi memutuskan suatu perkara. 

    Yang bikin merinding, adalah hukuman yang dijatuhkan. Ada hukum pasung dan hukum pancung. Untuk tindak kejahatan yang berat tentunya hukum pancung. Menurut pemandu yang menemani saya, hukuman pancung menjadi ciri dari hukuman di Huta Siallagan, dan inilah yang membuat saya langsung merinding. Ada lokasi khusus untuk pemancungan, dan ada algojo khusus juga. 

    Sebelumnya dipancung ada prosesi khusus bagi pelaku kejahatan yang bisa membuat kuduk langsung merinding. Karena di masa lalu, orang banyak mempunyai "ilmu", maka perlu langkah untuk menghilangkan kemampuan khusus  itu. Kulit pelaku kejahatan pun disayat lantas lukanya  diberi air jeruk nipis. Inilah ramuan yang dipercaya menghapuskan ilmunya dan  hukuman pancung pun bisa dilaksanakan dengan sekali tebas.  

    Saya pun ditunjukkan seperti apa langkah si algojo oleh sang pemandu. Semakin merinding tentunya.  Namun, jangan khawatir semuanya hanya menjadi jejak sejarah yang menarik disimak di kampung adat ini. Tak ada wajah seram dari para algojo, yang ada wajah ramah para pemandu dan tentunya penjaja suvenir. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.