Minggu, 18 November 2018

Sego Gurih, Pelengkap Ritual Malam Sura di Keraton Yogyakarta

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah abdi dalem Keraton Yogyakarta mengikuti tradisi Lampah Budaya Tapa Bisu Mubeng Beteng di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, 22 September 2017. Dalam tradisi menyongsong Tahun Baru Jawa 1 Suro 1951 Dal/1439 H itu para abdi dalem bersama ribuan warga melakukan ritual mengitari Beteng Keraton Yogyakarta sambil tapa bisu atau berjalan tanpa bicara sebagai salah satu bentuk refleksi diri. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    Sejumlah abdi dalem Keraton Yogyakarta mengikuti tradisi Lampah Budaya Tapa Bisu Mubeng Beteng di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, 22 September 2017. Dalam tradisi menyongsong Tahun Baru Jawa 1 Suro 1951 Dal/1439 H itu para abdi dalem bersama ribuan warga melakukan ritual mengitari Beteng Keraton Yogyakarta sambil tapa bisu atau berjalan tanpa bicara sebagai salah satu bentuk refleksi diri. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Ada hal yang tak pernah tertinggal dalam perayaan ritual Mubeng Beteng Tapa Bisu atau berjalan diam mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta untuk menyambut Tahun Baru Jawa 1 Sura, seperti yang terlaksana pada Selasa, 11 September 2018, yakni makan bersama dengan menu nasi gurih (sego gurih) di malam Sura.

    Sebelum peserta yang jumlahnya ribuan itu mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta, digelar acara melantunkan tembang Macapatan. Selain itu, ada dahar kembul atau makan bersama hidangan unik berupa nasi gurih yang dibagikan para abdi dalem kepada para peserta malam Sura.

    Makanan khas untuk dahar kembul yang dibagikan itu berisi nasi, lalapan, telur puyuh, daun kemangi, mentimun, dan kerupuk kulit sapi. Semuanya dibungkus dengan wadah berbahan kertas mirip pincuk.

    Nasi gurih dari para abdi dalem ini sebagai simbol agar hidup manusia tidak hambar setelah melakukan refleksi diri kepada Tuhan lewat berjalan diam Mubeng Beteng.

    Begitu nasi gurih dibagikan, ribuan warga serentak mendekat dan antre. Setelah mendapatkan sajian itu, mereka menyantap bersama seraya duduk lesehan di halaman Keben Keraton Yogyakarta, tempat awal dan akhir ritual Mubeng Beteng.

    Meski berebut, situasi tetap terjaga dan tertib. Tak ada saling dorong, mau menang sendiri, atau membuat suasana menjadi gaduh. "Dahar kembul dan tembang Macapatan menjadi bagian Mubeng Beteng sebagai bentuk rasa syukur," ujar Panitia Mubeng Beteng atau Carik Tepas Ndoro Puro Keraton Yogyakarta, Kanjeng Raden Tumenggung Wijoyo Pamungkas.

    Seorang warga asal kampung Purwodiningratan, Yogyakarta, Akbar Nurizki Kurniawan, 20 tahun, ikut mengantre nasi gurih tersebut bersama sejumlah sanak keluarganya. Mereka semua mengenakan busana peranakan lengkap. "Berhasil mendapatkan nasi gurih itu rasanya seneng karena penuh perjuangan," kata dia.

    Adapun Hanif Nasution, seorang wisatawan yang turut dalam perayaan malam Sura, mengaku kurang tahu persis ritual budaya saat itu. Namun ia datang untuk menuntaskan rasa penasarannya. "Mumpung masih sekolah di Yogya," ujarnya.

    PRIBADI WICAKSONO (Yogyakarta)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.