Jumat, 16 November 2018

Malam Satu Sura, Warga Berebut Air Jamasan Pusaka Mangkunegaran

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Masyarakat berebut air ritual saat peringatan malam 1 sura di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Jumat malam, 24 Oktober 2014. Warga sangat antusias mengikuti ritual pergantian tahun Baru Islam di wilayah Soloraya. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Masyarakat berebut air ritual saat peringatan malam 1 sura di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Jumat malam, 24 Oktober 2014. Warga sangat antusias mengikuti ritual pergantian tahun Baru Islam di wilayah Soloraya. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Surakarta - Penyambutan Tahun Baru Jawa atau yang dikenal dengan Malam Satu Sura di Pura Mangkunegaran Solo dipadati oleh masyarakat, Senin 10 September 2018. Sebagian dari mereka mengikuti kirab pusaka mengelilingi Mangkunegaran. Sedangkan sebagian lainnya datang untuk berebut air bekas jamasan pusaka.

    Sesuai jadwal, acara kirab Malam Satu Sura baru dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Namun, masyarakat sudah berdatangan ke tempat itu sejak Maghrib. Semakin malam, masyarakat yang datang kian banyak.

    Prosesi kirab Malam Satu Sura dimulai dengan pelepasan yang dilakukan oleh KGPAA Mangkunegara IX. Ratusan peserta kirab berjalan mengiringi empat pusaka yang terbungkus kain. Setelah rombongan terakhir berangkat, warga langsung merangsek ke arah drum berisi air yang berada di depan pendapa.

    Air tersebut merupakan bekas jamasan atau media untuk membersihkan pusaka. Warga memperebutkan air kembang itu dan memasukannya ke wadah yang dibawa. Ada pula yang hanya membasuhkan tangan maupun muka dengan air yang berada dalam drum kecil itu. Dalam beberapa menit, air di beberapa drum kecil itu langsung ludes.

    Salah satu warga, Sulardi mengaku datang dari Klaten. Dia baru pertama kali datang ke acara kirab pusaka Malam Sura di Mangkunegaran. "Diajak oleh kerabat yang sudah biasa kemari," katanya.

    Dia sengaja datang untuk ikut berebut air lantaran sedang berupaya menjual rumahnya. "Nanti disiramkan ke halaman agar lekas laku," katanya. Dia sangat yakin air bekas jamasan pusaka itu memiliki tuah.

    Panitia kirab Malam Satu Sura, Joko Pramudya mengatakan tradisi berebut air itu sudah berlangsung bertahun-tahun. "Kami selalu berusaha mengatur agar masyarakat bisa tertib sehingga tidak ada yang jatuh atau terinjak," katanya.

    AHMAD RAFIQ (Surakarta)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.