Jumat, 16 November 2018

Cara 3 Daerah Menyambut Datangnya Malam Sura

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Abdi dalem membawa pusaka keraton saat mengikuti kirab peringatan 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, 21 September 2017. Berdasarkan perhitungan setempat, Keraton Surakarta Hadiningrat memperingati malam Tahun Baru Jawa satu Muharram atau Suro sehari lebih lambat daripada keraton-keraton eks-Kesultanan Mataram Islam lainnya. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

    Abdi dalem membawa pusaka keraton saat mengikuti kirab peringatan 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, 21 September 2017. Berdasarkan perhitungan setempat, Keraton Surakarta Hadiningrat memperingati malam Tahun Baru Jawa satu Muharram atau Suro sehari lebih lambat daripada keraton-keraton eks-Kesultanan Mataram Islam lainnya. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

    TEMPO.CO, Jakarta - Beragam cara daerah-daerah di Indonesia menandai datangnya 1 Muharram atau 1 Sura dalam penanggalan Jawa. Berikut 3 daerah yang menggelar agenda kegiatan budaya dalam menyambut datangnya tahun baru Islam dan tahun baru dalam penanggalan Jawa tersebut.

    1. Kirab Keraton Surakarta

    Keraton Kasunanan Surakarta akan menggelar kirab pusaka dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa atau yang juga dikenal sebagai Malam Sura.  Seperti biasanya, satwa peliharaan keraton, kerbau bule juga akan ikut dikirab saat Malam Sura. "Saat ini kerbau yang akan mengikuti kirab sudah dipilih," kata Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo, Sabtu 8 September 2018.

    Kerbau bule yang dimiliki oleh keraton pada saat ini berjumlah 17 ekor. "Kami memilih tujuh ekor untuk ikut dikirab pada Malam Sura nanti," katanya. Pemilihan berdasar berbagai pertimbangan, salah satunya faktor kejinakan.

    Selain kerbau bule keturunan Kyai Slamet itu, beberapa pusaka keraton juga akan dikirab. Namun, Dipokusumo belum bisa memastikan jenis pusaka yang akan dikeluarkan. Diperkirakan, kirab itu akan diikuti oleh sekitar 800 orang abdi dalem dan kerabat keraton. Selain itu, biasanya juga banyak warga yang ikut berjalan dalam iring-iringan kirab.

    Pelaksanaan kirab sekaligus penyambutan malam Tahun Baru Jawa itu dilakukan pada Selasa malam, 11/9. "Selisih satu hari dengan kalender pemerintah," katanya.

    Dia beralasan keraton menggunakan penanggalan sendiri yang telah disusun sejak zaman Sultan Agung. "Merupakan penggabungan dari penanggalan Saka dengan Hijriyah," katanya. Adapun kirab akan dimulai pada tengah malam, berjalan dari depan keraton menuju utara hingga perempatan Telkom. Dari perempatan itu iring-iringan akan berbelok ke timur menuju Jalan Kapten Mulyadi.

    Kirab lantas bergerak meuju selatan hingga perempatan Baturono dan bergerak menuju barat di Jalan Veteran. Selanjutnya, mereka berbelok ke utara menyusuri Jalan Yos Sudarso hingga menembus ke Jalan Slamet Riyadi.

    Di jalan protokol tersebut, kirab akan berjalan ke timur menuju bundaran Gladak dan akan berbelok kembali ke selatan menuju keraton. "Rute ini masih sama dengan kirab Malam Sura di tahun-tahun sebelumnya," kata Dipokusumo.

    1. Bedol Pusaka di Ponorogo

    Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menggelar tradisi Bedol Pusaka dari Pringgitan atau Rumah Dinas Bupati di lingkungan Alun-alun kabupaten setempat menuju ke kawasan Pasar Pon, yang berjarak sekitar 5 kilometer.

    "Bedol Pusaka ini sudah menjadi tradisi yang digelar setiap suroan` atau peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram," ujar Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni kepada wartawan usai memimpin prosesi Bedol Pusaka, yang berlangsung hingga Senin, 10/9, dini hari.

    Ada tiga benda pusaka yang diyakini telah ratusan tahun tersimpan di Pringgitan yang saat ini ditempatinya sejak terpilih menjabat Bupati Ponorogo di tahun 2016. Masing-masing adalah pusaka payung "songsong tunggul nogo", tombak "tunggul wulung" dan tambang atau sabuk "cinde puspito".Konon ketiga pusaka tersebut dipergunakan oleh pendahulunya untuk mempertahankan wilayah Ponorogo dari serangan penjajah.

    Tradisi bedol pusaka ini mampu menarik perhatian ratusan ribu masyarakat setempat maupun wisatawan. "Puncaknya tepat pada 1 Muharram nanti, yaitu hari Selasa, 11 September, akan digelar tradisi Grebeg Sura di Telaga Ngebel, yang biasanya juga disaksikan oleh banyak wisatawan," ucapnya.

    1. Festival Seribu Obor

    Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah mengagendakan Festival Seribu Obor yang dilaksanakan oleh warga Desa Pranten, Kecamatan Bawang pada rangkaian menyambut 1 Muharam atau malam 1 Syura menjadi kalender wisata tahunan.

    Bupati Batang Wihaji di Batang, Minggu, 9/9, mengatakan selama ini pawai obor yang dilaksanakan warga setempat hanya sebatas bertujuan menyambut malam 1 Syura. Pada masa depan tradisi ini akan dijadikan kalender wisata di daerah.

    Menurut dia, wilayah Desa Pranten yang memiliki ketinggian 2.000 meter di atas permukaan air laut (Mdpl) dan berdekatan kawasan Dieng ini memiliki banyak potensi wisata alam yang dapat ditawarkan pada pengunjung. Apabila potensi wisata alam ini dipadukan dengan Festival Seribu Obor,maka hal itu akan menambah daya tarik sendiri bagi pengunjung wisata.

    Ketua Tradisi Pawai Obor Sumadi mengatakan kegiatan pawai obor dilaksanakan Sabtu malam hingga Minggu pagi, 9/9

    ANTARA | AHMAD RAFIQ (Sala)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.