Rabu, 26 September 2018

Menyesap Kopi di Tengah Koleksi Benda-benda Peranakan Kuno di Malang

Reporter:
Editor:

Rita Nariswari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana kafe bergaya peranakan di Malang, Jawa Timur, Loe Min Toe Coffee, Minggu, 2 Seotember 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Suasana kafe bergaya peranakan di Malang, Jawa Timur, Loe Min Toe Coffee, Minggu, 2 Seotember 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Malang - Sebuah rumah di permukiman tepi Sungai Brantas, Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Malang, tampak tak seperti hunian biasa. Peruntukannya telah diubah menjadi kafe sekaligus ruang kumpul komunitas. Berjuluk Loe Min Toe Coffee, pemilknya, Bowo Wasito, memoles rumah berukuran 300 meter persegi ini menjadi ruang ngopoi bergaya oriental kuno. 

    Sebuah pintu gerbang bertuliskan rangkaian huruf Mandarin terpajang di depan pintu. Pintu itu memiliki dua sayap alias dua daun pintu. Di bagian tengahnya digantung kain berwarna merah seperti tabir pertunjukan. Tempat di samping pintu, berdiri sebuah musala berarsitektur Jawa. 
     
    Inilah pengucap selamat datang bagi para tamu. “Mari masuk. Ini rumah dulunya mau dibikin sanggar, tapi malah jadi kafe,” kata Bowo, menyambut Tempo dan rombongan wartawan peliput Pucuk Coolinary Festival pada Minggu sore, 2 September 2018. 
     
    Bowo membawa para tamunya masuk ke ruangan pertama pada kafe itu. Ruangan tersebut seperti rumah joglo yang memiliki pilar-pilar penyangga. Lantainya ubin batu granit yang ditata berjarak.
     
    Alih-alih disebut tempat ngopi, ruangan demi ruangan di dalam rumah pensiunan pegawai BUMN tersebut malah lebih mirip tong harta karun. Setiap sudutnya terpasang oramen kuno bergaya Cina peranakan: guci-guci lawas, pajangan dinding, jam usang, keramik retak, sampai figura. 
     
    Rumah itu memanjang, mengikuti alur Sungai Brantas. Makin masuk, makin kencang terdengar deras suara sungai. Pada setiap ruang di rumah tersebut tertata meja-kursi yang poisisinya tak karuan. Namun tampil artistik. Di salah satu meja terdapat sebuah buku. Sampulnya usang. Buku itu tertulis diterbitkan tahun 1920. “Ini koleksi yang tergolong tua. Saya dapat dari pengepul,” ujar Bowo.
     
    Tak terhitung kini berapa koleksi benda-benda kunonya. Kebanyakan bergaya Cina dan Jawa. Ia mengumpulkan dari Sumatera sampai Papua. Barang-barang itu belum dipajang semua. Masih ada sebagian di gudang penyimpanan. Hobi mengumpulkan barang-barang pribadi ini telah dimulainya sejak 1987. Pengunjung kafe pun bisa ikut menikmati benda-benda kuno itu.Salah satu patung di kafe bergaya peranakan di Malang, Jawa Timur, Loe Min Toe Coffee, Minggu, 2 Seotember 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana 
     
    Benda paling otentik, menurut dia, ialah yang berasal dari dasar laut. Di antaranya keramik-keramik yang diangkut dari kapal-kapal tenggelam di perairan seluruh Indonesia. Ia membelinya dari tangan kedua. “Ini justru yang paling sulit dicari,” ujarnya. 
     
    Terpajang tulisan-tulisan Mandarin pula pada sudut-sudut kafe. Bowo, yang pria Jawa tulen, mengaku tak paham betul maknanya. Namun ia tahu bahwa tulisan itu bermaksud baik. Ide mengumpulkan bawang berbau peranakan ini muncul atas kecintaannya terhadap budaya Cina. Terlebih, ia mempersunting perempuan keturunan Tionghoa. 
     
    Bowo mengubah rumahnya yang mirip galeri itu menjadi kafe pada 2016. Mulanya, sang anak, Anita, kepingin membuka kafe. Ia yang baru lulus kuliah berniat membuka usaha, bukan bekerja kantoran. Lantaran biaya sewa tempat yang mahal, keluarga tersebut memoles rumahnya menjadi kafe. 
     
    Kini kafe itu bukan sekadar lokasi nongkrong. Namun juga kumpul komunitas, salah satunya anak-anak muda pembelajar bahasa Inggris. Mereka diberi ruang cuma-cuma untuk melakukan aktivitas belajar-mengajar. Kafe ini juga ramai didatangi para mahasiswa yang ingin menepi atau mengerjakan tugas. Suasanannya sunyi dan mendukung tamu berkonsentrasi penuh. Benda-benda kuno di kafe bergaya peranakan di Malang, Jawa Timur, Loe Min Toe Coffee, Minggu, 2 Seotember 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana
     
    Pada waktu-waktu tertentu, ruangan-ruangan pada Kafe Loe Min Toe akan disulap menjadi spot prewedding. Anita, sang anak, yang kini mengelola kafe tersebut, pengunjung cuma perlu membayar Rp 200 ribu per jam untuk mengambil potret prewedding. Namun disarankan mengambil gambar pada pagi pukul 07.00 hingga 13.00 saat kafe sepi. 
     
    Kafe itu menjual aneka camilan nongkrong biasa. Semisal tempe mendoan, pisang goreng, hingga singkong. Harga yang dibanderol berkisar Rp 10-18 ribu. Sedangkan minuman yang disediakan ialah yang berbau kopi-kopian serta teh dan soda. Kisaran harga pun di bawah Rp 30 ribu, disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa. 
     
     
    Kafe ini buka mulai pukul 13.00 hingga 00.00 saban hari kecuali Senin. “Kalau Senin tutup dulu,” ujar Bowo. 

     FRANCISCA CHRISTY ROSANA

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Joaquin Phoenix dan Para Pemeran Joker Sejak 1966

    Sutradara film terbaru Joker, Todd Phillips mengunggah foto pertama Joaquin Phoenix sebagai Joker, akan tayang Oktober 2019. Inilah 6 pemeran lainnya.