Sabtu, 17 November 2018

Kabupaten Lebak Gunakan Narasi Multatuli untuk Tarik Wisatawan

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prasasti Eduard Douwes Dekker di halaman rumah cagar budaya Multatuli di Rangkasbitung, Lebak, Banten, 29 Juli 2015. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    Prasasti Eduard Douwes Dekker di halaman rumah cagar budaya Multatuli di Rangkasbitung, Lebak, Banten, 29 Juli 2015. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    TEMPO.CO, Lebak - Narasi mengenai Max Havelaar karya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker bisa menjadi daya tarik Kabupaten Lebak, Banten, untuk mendatangkan wisatawan. Salah bab dalam karya itu adalah kisah Saidjah dan Adinda yang sudah kodang.

     "Narasi Saidjah dan Adinda karya Multatuli bisa terus dikembangkan, karena ini bisa menjadi daya tarik masyarakat di luar Lebak untuk datang," kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid saat pembukaan Festival Seni Multatuli di Rangkasbitung, Kamis, 6/9.

    Dia mengatakan Multatuli saat menulis novel tersebut dipenuhi rasa marah, setelah merasa gagal mengatasi ketidakadilan di masyarakat Lebak. Gagasan Multatuli yang dituangkan dalam novel tersebut, menurut Hilmar, membuat masyarakat Eropa dan beberpaa tokoh Indonesia saat itu tercerahkan mengenai buruknya sistem penjajahan.

    Baca juga: 34 Artefak dari Belanda akan Melengkapi Museum Multatuli

    Sejarawan Bonnie Triyana sepakat narasi Multatuli memang bisa menjadi kekuatan Kabupaten Lebak, terutama Rangkasbitung. Dan narasi tersebut dapat mengundang orang untuk datang.

    Saat ini sudah berdiri Museum Multatuli di Lebak yang mengkoleksi berbagai hal tentang tokoh tersebut. "Dulu kalau orang ke sini ingin  tahu tentang Multatuli tidak tahu harus kemana. Sejak ada Museum Multatuli mereka mudah mendapatkan informasi tersebut," kata dia.

    Dia mengatakan Multatuli atau Douwes Dekker memang hanya sekitar tiga bulan tinggal di Lebak sebagai asisten residen. Dia pindah dari Lebak, setelah berselisih dengan atasannya.

    Tetapi penderitaan yang dialami rakyat Lebak telah menginspirasi dia menulis novel yang terbit pada 1860. Pada saat itu dia tinggal di Brussel, Belgia. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pada 1972 oleh HB Jassin.Max Havelaar Dihadapan orang Jawa. Foto:Buku Multatuli

    Museum Multatuli menempati bangunan bekas kantor Kawedanan Rangkasbitung (1923). Museum yang terdiri atas tujuh ruangan ini menampilkan empat tema besar, yaitu antikolonialisme, Multatuli dan karyanya, sejarah Lebak dan Banten, serta Rangkasbitung masa kini.

    Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengatakan sejak adanya Museum Multatuli jumlah wisatawan ke Rangkasbitung bertambah. Menurut data, sejak awal dibuka hingga saat ini sudah ada 13 ribu pengunjung.

    Mereka datang dari berbagai latar belakang. Banyak juga dari pengunjung itu datang dari manca negara, terutama Belanda.

    Tahun ini untuk pertama kalinya digelar Festival Seni Multatuli di Kabupaten Lebak. Pemerintah setempat menghelatnya bersama komunitas budaya dan Kemendikbud. Kegiatan tersebut digelar pada 6-9 September 2018.

    Festival Seni Multatuli 2018 bersandar pada ide perlunya respons gagasan Multatuli ke dalam bentuk-bentuk seni, seperti teater, puisi, musik, seni rupa, bahkan opera. Banyak yang bakal tampil, antara lain, 10 komunitas teater Banten dan pianis Ananda Sukarlan yang menggarap sebuah opera.  

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.