Selasa, 13 November 2018

Mengenang Masa Edo di Kurashiki Bikan Jepang

Reporter:
Editor:

Rita Nariswari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kanal di kawasan kota tua Kurashiki Bikan di Kurashiki, Jepang. Kanal ini dulu dipenuhi perahu yang membawa berbagai produk dari area Bitchu. Tempo/Rita Nariswari

    Kanal di kawasan kota tua Kurashiki Bikan di Kurashiki, Jepang. Kanal ini dulu dipenuhi perahu yang membawa berbagai produk dari area Bitchu. Tempo/Rita Nariswari

    TEMPO.CO, Jakarta - Bus membawa saya melalui jalan yang tidak terlalu lebar dan tergolong sepi di Kurashiki, Perfektur Okayama, Jepang. Kota ini bisa dicapai dari Tokyo dengan penerbangan sekitar 1 jam 20 menit atau dengan kereta api kurang-lebih 4 jam. Memasuki area parkir, saya langsung melonjak kegirangan. Tepat di seberang area parkir, sebuah rumah lawas tampak. “Itu salah satu bangunan tuanya,” ujar sang pemandu rombongan.

    Ahaa, hari itu saya dan rekan-rekan akan kembali ke masa Edo (1603-1868) dengan menyusuri kawasan bersejarah Kurashiki Bikan. Saya pun melangkah enteng menuju area yang dulu merupakan daerah perdagangan. Di sini berjajar rumah para pengusaha berikut gudang-gudang penyimpanan barang dagangan mereka.

    Bangunan rumah bergaya lokal, sedangkan gudang berupa bangunan bergaya Barat yang kukuh. Di ujung jalan menuju kawasan, beberapa toko menggoda saya. Dua di antaranya menaruh barang dalam keranjang-keranjang di luar toko, sehingga saat melintas pun langsung kentara jelas. Dari mainan sampai pajangan, dari model lawas sampai desain baru.

    Kaki saya terus melangkah hingga bertemu kanal dengan sisi kiri-kanan bangunan yang juga menarik. Sungai Kurashiki pada masa lalu menjadi jalur perahu yang membawa produk lokal dari seluruh area Bicthu. Semisal, beras atau biji-bijian lain. Saya melirik di kiri, terlihat plang nama Ohara Museum of Art, museum seni Barat milik swasta yang pertama di Jepang. Bangunannya didirikan pada 1930.

    Di sisi kanan ada sebuah rumah khas pada masa itu yang dimiliki seorang pengusaha, Ohashi. Dibangun pada 1796, tergolong salah satu rumah berukuran besar di kawasan wisata ini. Bertembok putih dengan jendela kayu berderet di bagian atasnya. Atapnya khas Edo, berupa genting hitam.

    Baca Juga: 

    Suguhan Dramatis Great Seto Bridge dari Gunung Washuzan Okayama

    Tip Traveing Murah Meriah Menjelajahi Jepang

    Sekelompok turis tampak berada di tengah kanal, menumpang sampan lengkap dengan pemandunya. Sepanjang kanal, berjajar pohon rindang di kiri-kanan, membuahkan keteduhan dan tentunya ketenangan. Di seputar kanal ini rupanya para turis berkumpul. Meski melaju di sungai yang tergolong pendek, menaiki sampan cukup menyenangkan.

    Tentunya sembari membayangkan bahwa di masa Edo, kanal menjadi jalur perahu kargo. Waktu pemberangkatan perahu khusus untuk turis ini setiap 30 menit dan beroperasi dari pukul 09.20-17.00.

    Beberapa bagian bangunan difungsikan sebagai kedai makanan, juga toko suvenir. Becak dengan tenaga orang atau jinriksha pun masih ada. Kaki saya terus melangkah menyusuri salah satu jalan di tepian kanal. Beruntung bertemu dengan pasangan calon pengantin yang melakukan foto pre-wedding. Berfoto di berbagai sudut kawasan bersejarah, lalu melanjutkan pemotretan di atas perahu di tengah kanal.

    Suasana di kawasan kota tua Kurashiki Bikan di Kota Kurashiki, Prefektur Okayama, Jepang. Tempo/Rita Nariswari

    Semakin jauh melangkah, semakin banyak kedai yang saya temukan, hingga saya menemukan ujung jalan dan berputar arah. Karena waktu yang terbatas, saya pun harus segera kembali. Untuk bisa menikmati suasana dan mengunjungi setiap museum, setidaknya sediakan waktu 2 jam. Bila ingin mencicipi kulinernya, mungkin sekitar 3 jam.

    Dalam perjalanan di sisi lain dari kanal, saya melihat lebih banyak bangunan kukuh. Di antaranya ada bangunan putih yang dulu merupakan Kurashiki Town Office yang telah digunakan sebagai Tourist Information Center. Bergaya arsitektur Barat, gedung tersebut dibangun pada 1917.

    Di jalur ini pula sejumlah obyek wisata bisa ditemukan, kebanyakan berupa museum. Semisal, Kurashiki Museum of Natural History, Kurashiki City Art Museum, Japanese Rural Toy Museum, dan tentunya Kurashiki Museum of Folkcraft, yang menempati bekas gudang beras. Saya juga menemukan bangunan lain milik Ohara. Yang satu ini merupakan rumah kedua milik keluarga Ohara, dibangun oleh Magosaboru Ohara untuk istrinya. Atapnya terlihat kehijauan sehingga dikenal dengan nama Green Palace. Perjalanan di kota tua ternyata harus berakhir, pemandu melambaikan tangan ke arah saya.  l


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?