4 Tantangan Saat Glamping di Ciwidey Bandung

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jika ingin menikmati sunyinya malam, dinginnya embun pagi  di pinggir danau, maka memilih tidur di Tent Resort bisa menjadi pilihan.  Glamping Lakeside Rancabali menyediakan tenda dengan fasilitas hotel berbintang. Tempo/Rully Kesuma

    Jika ingin menikmati sunyinya malam, dinginnya embun pagi di pinggir danau, maka memilih tidur di Tent Resort bisa menjadi pilihan. Glamping Lakeside Rancabali menyediakan tenda dengan fasilitas hotel berbintang. Tempo/Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Jakarta - Glamping atau glamorous camping menawarkan konsep yang berbeda saat berkemah. Tidak seperti kemah-kemah biasa, aktivitas bermalam di alam bebas ini menyajikan peranti tenda dengan fasilitas lengkap layaknya hotel.

    Konsep glamping telah beberapa tahun masuk di Indonesia. Misalnya pada 2015. Metode penginapan lux yang tetap mengangkat unsur petualangan di alam bebasnya ini diterapkan oleh Glamping Lake Side di Pengalengan, Jawa Barat. Glamping itu benar-benar pas bagi penyuka wisata alam lantaran berdiri di tengah kebun kopi dan danau alami.

    Baca juga: Glamping, Berkemah Rasa Hotel Berbintang di Ciwidey

    Manajer pengelola Glamping Like Side Lutfie Nauval, saat ditemui Kamis malam, 2 Agustus 2018, di kawasan Lake Side Glamping Rancabali, Ciwidey, Jawa Barat, mengatakan konsep yang diusung di penginapannya ini sejalan dengan program Kementerian Pariwisata mendatangkan wisatawan melalui nomadic tourism. Turisme jenis ini adalah solusi bagi daerah pariwisata potensial yang minim keterbatasan akomodasi.

    Meski tampak nyaman, glamping di kawasan Ciwidey memiliki tantangan sendiri. Tantangan itu di antaranya ditemui Tempo saat menginap di Lake Side Glamping Rancabali, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dari Rabu, 1 Agustus, hingga Jumat kemarin, 2 Agustus.

    1. Tidak ada televisi
    Umumnya, pihak glamping tidak menyediakan televisi di dalam tenda. Di dalam tendam fasilitas yang tersedia adalah kasur empuk, selimut hangat, toilet beserta toiletriesnya, dan minibar di dalam kamar. Tanpa televisi akan mendorong pengunjung lebih terdorong menikmati alam bebas.

    2. Suhu rendah di kawasan perbukitan
    Suhu rendah hingga 11 derajat Celcius akan dirasakan wisatawan saat menginap di kawasan glamping Ciwidey. Apalagi saat dinihari. Selimut yang disediakan terasa tidak cukup membantu mengatasi suhu dingin. Disarankan, pelancong membawa perlengkapan seperti sleeping bag dan baju hangat.

    3. Aksesibilitas
    Salah satu tantangan glamping di kawasan Ciwidey adalah minimnya transportasi umum. Pengunjung perlu memikirkan dengan matang caranya mengakses lokasi-lokasi wisata di sekitar area glamping. Misalnya menyewa kendaraan pribadi dari kota.

    4. Harga yang relatif tinggi
    Untuk menginap di kawasan glamping, wisatawan dipatok harga lumayan. Misalnya untuk kelas paling murah, harga sewa berkisar di atas Rp 1 juta. Meski satu tenda bisa dihuni empat orang, harga itu cukup tinggi bagi kalangan budget traveler.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.