Setelah Gempa, Tim Kaji Jalur Evakuasi Anternatif Gunung Rinjani

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendaki Gunung Rinjani, yang sempat terjebak longsor akibat gempa bumi, tiba di Pos Bawaknao, Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Senin, 30 Juli 2018. Sebanyak 560 pendaki sempat terjebak di Gunung Rinjani akibat gempa bumi. ANTARA

    Pendaki Gunung Rinjani, yang sempat terjebak longsor akibat gempa bumi, tiba di Pos Bawaknao, Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Senin, 30 Juli 2018. Sebanyak 560 pendaki sempat terjebak di Gunung Rinjani akibat gempa bumi. ANTARA

    TEMPO.CO, Mataram - Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno mengatakan Tim Pakar akan melakukan serangkaian pengkajian keamanan pendakian di Gunung Rinjani. Salah satunya adalah menentukan jalur alternatif evakuasi jika terjadi bencana pendakian.

    Hal itu perlu dilakukan setelah  terjadi gempa berkekuatan 6,4 skala richter, Ahad 29 Juli 2018 pukul 06.47 Waktu Indonesia Tengah. Akibat gempat tersebut ribuan pendaki terjebak di Gunung Rinjani, namun semua telah berhasil dievakuasi oleh Tim Tanggap Bencana.

    “Meski demikian Tim Tanggap Bencana di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani akan siaga  hingga 6 Agustus 2018 mendatang,” kata Wiranto di di Posko Bersama di Kantor Camat Sembalun, Rabu 1 Agustus 2018 pagi

    Wiranto mengatakan Tim Pakar nantinya terdiri, antara lain, dari para praktisi (pendakian). Mereka juga akan mengkaji prediksi pola kegempaan dan letusan dan dampaknya pada pendakian. ''Akan dilakukan oleh tim pakar praktisi secara terpadu.”Jenazah pendaki Gunung Rinjani, Muhammad Ainul Takzim, dalam proses evakuasi di Pelawangan Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Selasa, 31 Juli 2018. Ainul diduga meninggal dunia karena tertimpa longsor bebatuan ketika beranjak dari Danau Segara Anak, Gunung Rinjani. ANTARA/Humas SAR Mataram

    Selain itu, juga akan dilakukan perbaikan manajemen pendakian melalui pembentukan sistem booking online. Dengan sistem ini akan ada, ''Penetapan kuota pengunjung perhari,'' kata Wiratno.

    Ia juga mengemukakan  CCTV akan dioperasikan kembali untuk memantau pendaki, lalu ada pemberlakuan tagging pendaki dengan sistem Radio Frequency Identification (RFID). Teknologi Informasi Universitas Mataram akan mendukung pembangunan sistem RFID tersebut.

    Hingga Selasa 31 Juli 2018 malam pukul 19.50 Waktu Indonesia Tengah, seluruh pendaki dan Tim Evakuasi sudah keluar dari kawasan TNGR. Mereka terdiri dari 696 orang pendaki warga negara asing (WNA) dan 530 orang warga negara Indonesia (WNI).

    WNA terbanyak 358 orang atau 54,88 persen berasal dari Thailand, 68 orang atau 9,77 persen asal Perancis, 43 orang atau 6,17 persen warga Belanda, Jerman 25 orang (3,59 persen), dan Swiss 21 orang atau 3,01 persen.

    Satu orang yang meninggal di gunung Rinjani adalah pendaki asal Makassar Moh Ainul Taksim, 26 tahun. ''Pagi dini hari tadi pukul 02.00 waktu setempat sudah sampai di Makassar,''kata Wiranto.

     SUPRIYANTHO KHAFID  (Mataram)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.