Rabu, 26 September 2018

Yogyakarta Bangun Diorama Sejarah dengan Teknologi Modern

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Diorama-diorama yang menjadi wahana wisata baru di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, yang mulai dilaunching Rabu (4/4). Wahana yang melibatkan tak kurang 100 diorama dan objek replik sejarah ini menjadi alternatif wisata sejarah yang lebih representatif. TEMPO/PRIBADI WICAKSONO

    Diorama-diorama yang menjadi wahana wisata baru di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, yang mulai dilaunching Rabu (4/4). Wahana yang melibatkan tak kurang 100 diorama dan objek replik sejarah ini menjadi alternatif wisata sejarah yang lebih representatif. TEMPO/PRIBADI WICAKSONO

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan membangun destinasi wisata edukasi mengenai sejarah Yogyakarta dalam bentuk diorama. Rencananya, diorama ini menggunakan teknologi modern holorama dan bertempat di lantai dua gedung Badan Perpustakaan dan Arsip DIY.

    "Untuk rencana detail teknis sudah selesai, dan mudah-mudahan 2019 sudah bisa dibangun," kata pelaksana tugas Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Budi Wibowo, di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Selasa, 10 Juli 2018.

    Budi mengatakan diorama yang akan dibangun di ruangan seluas 1.400 meter persegi itu akan mengulas sejarah Yogyakarta mulai masa Mataram kuno hingga saat ini. Ruangan tersebut diperkirakan mampu menampung 700 pengunjung. Nantinya, pengunjung bisa masuk secara gratis.

    Durasi yang dibutuhkan pengunjung untuk menikmati sajian diorama diperkirakan tidak terlalu lama. "Membutuhkan waktu 30 menit hingga satu jam untuk menikmati seluruh diorama," ujar Budi.

    Menurut dia, penggunaan teknologi modern berupa holorama bertujuan untuk makin memudahkan pengunjung meresapi alur sejarah Yogyakarta, yang akan disajikan melalui diorama.

    Teknologi ini untuk pertama kali diterapkan di Yogyakarta. Holorama akan membuat semua visual dalam diorama bergerak seperti aslinya. Teknologi itu juga relatif mempermudah apabila terjadi perubahan secara mendasar karena tidak berupa patung, seperti diorama di Museum Monumen Jogja Kembali.

    "Misalnya masuk ruangan diorama 'Serangan Umum Satu Maret', maka pengunjung akan betul-betul merasakan seperti berada di ruangan perang. Kemudian, ketika masuk ruangan 'Rebutan Apem', ya, seperti ikut rebutan betulan," ucapnya.

    Budi mengatakan rencana pemanfaatan teknologi holorama mendapat sambutan baik dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pembangunan diorama yang ditargetkan selesai pada 2020 itu diperkirakan membutuhkan dana Rp 15 miliar, yang akan dialokasikan dari dana keistimewaan. "Ini murni akan kami kerjakan sendiri, tidak ada kerja sama dengan pihak luar," tutur Budi.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Joaquin Phoenix dan Para Pemeran Joker Sejak 1966

    Sutradara film terbaru Joker, Todd Phillips mengunggah foto pertama Joaquin Phoenix sebagai Joker, akan tayang Oktober 2019. Inilah 6 pemeran lainnya.