Rabu, 26 September 2018

Ini Alasan Singapura Ingin Belajar Penataan Taman Kepada Surabaya

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak anak bermain di Taman Bungkul, yang terletak di tengah kota Surabaya (5/12). Taman ini memiliki banyak fasilitas, seperti skateboard track dan BMX track, jogging track, panggung, akses Wi-fi gratis, area green park dengan kolam air mancur, dan taman bermain anak-anak. TEMPO/Fully Syafi

    Sejumlah anak anak bermain di Taman Bungkul, yang terletak di tengah kota Surabaya (5/12). Taman ini memiliki banyak fasilitas, seperti skateboard track dan BMX track, jogging track, panggung, akses Wi-fi gratis, area green park dengan kolam air mancur, dan taman bermain anak-anak. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Surabaya- Pemerintah Singapura menyatakan tertarik belajar penataan pertamanan kepada kota Surabaya. Baru-baru ini kota pahlawan tersebut sukses meraih penghargaan Special Mention Lee Kuan Yew World City Prize 2018.

    Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Pembangunan Nasional dan Sumber Daya Manusia Singapura,Zaqy Mohamad. Pertemuan itu dilakukan di sela-sela agenda World Cities Summit di Marina Bay Sands Expo and Convention Center, Singapura, Minggu, 7/7.

    “Pembicaraan terkait penataan lingkungan. Singapura tertarik dengan taman di Surabaya dan kemudian meluas ke sektor pengembangan ekonomi kreatif," kata Risma melalui siaran pers di Surabaya.

    Menteri Pembangunan Nasional dan Sumber Daya Manusia Singapura, Zaqy Mohamad, mengatakan Singapura memang memiliki taman dan landsekap yang modern. “Namun, Surabaya punya keunggulan pada penataan lingkungan yang lebih hijau dan asri, serta partisipasi masyarakat yang tinggi dalam menjaga lingkungannya,” kata dia.Wali kota Tri Rismaharini bersama pekerja dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya memperbaiki taman yang rusak di atas jalur hijau jalan Raya Darmo, Surabaya (12/5). Walikota berniat memperkarakan penyelenggara pembagian es krim gratis ini ke polisi karena di anggap merusak fasilitas publik. TEMPO/Fully Syafi

    "Di Singapura, kami mempunyai taman-taman yang bagus, tetapi sepertinya tidak sehijau yang ada di Surabaya," ujarnya.

    Mengenai ekonomi kreatif Risma memaparkan Surabaya memiliki Co-Working Space KORIDOR di Gedung Siola yang buka 24 jam. Di sana, kata dia, para pelaku industri kreatif, utamanya start up digital dapat mengakses wi-fi gratis.Dengan demikian, lanjut dia, mereka mendapatkan wadah untuk berkarya.

    "Kami saat ini sedang fokus mendorong pertumbuhan industri start up, karena peluangnya lebih luas," kata wali kota perempuan pertama di Surabaya ini.

    Pada kesempatan tersebut, Risma juga mengundang delegasi Singapura untuk hadir pada Start Up Nation Summit pada November 2018, saat Surabaya akan menjadi tuan rumah.

    ANTARA                                                                            


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Karen Agustiawan Ditahan Karena Akuisisi Pertamina di Blok BMG

    Kejaksaan Agung menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investigasi Pertamina berupa akuisisi aset BMG.