Ritual Tolak Bala Barong Ider Bumi Banyuwangi Pikat 10 Ribu Turis

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melakukan upacara adat Barong Ider Desa di desa Kemiren, kecamatan Glagah, kabupaten Banyuwangi , Senin (21/9). Ritual berlangsung setiap tanggal dua syawal hari raya idul fitri bertujuan menangkal bala (bencana). TEMPO/NURDIANSAH

    Warga melakukan upacara adat Barong Ider Desa di desa Kemiren, kecamatan Glagah, kabupaten Banyuwangi , Senin (21/9). Ritual berlangsung setiap tanggal dua syawal hari raya idul fitri bertujuan menangkal bala (bencana). TEMPO/NURDIANSAH

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabupaten Banyuwangi baru saja menggelar Festival Barong Ider Bumi pada Sabtu, 16 Juni lalu, di Desa Kemiren. Kegiatan yang dihelat untuk ritual tolak bala ini berhasil mendatangkan 10 ribu wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

    Sejumlah barong yang dianggap sebagai peranti tolak bala diarak keliling desa. Festival ini digelar turun-temurun sejak 1840. Perhelatan dilakukan setelah peristiwa mengenaskan terjadi di desa itu. Desa Kemiren diserang wabah penyakit yang mengakibatkan sejumlah warga meninggal. Bersamaan dengan itu, para petani gagal panen.

    Baca juga: Banyuwangi Siapkan 77 Agenda Wisata Menarik Sepanjang 2018

    Sesepuh desa mendapat petunjuk bahwa warga harus menggelar arak-arakan Barong sebagai bentuk tolak bala. Ritual tersebut pun dilakukan secara turun-temurun.

    Festival Barong Ider Bumi diawali dengan permainan angklung oleh para sesepuh di balai desa setempat. Selanjutnya, barong diarak keliling desa sambil diiringi nyanyian doa berbahasa Jawa. Selama arak-arakan, tokoh adat akan menggelar Sembur Utik-utik atau menebar uang logam, beras kuning, dan bunga. Ini dilakukan untuk simbol tolak bala.

    Kelar arak-arakan, warga dan wisatawan akan makan bersama dengan hidangan pecel pitik khas Banyuwangi. Di antara wisatawan, Menteri Pariwisata Arief Yahya juga tampak hadir. Di sela-sela acara, Menpar Arief mengungkapkan apresiasinya terhadap festival tersebut.

    Menerut Menpar, atraksi budaya yang digelar secara turun-temurun ini dapat menjadi sarana pengembangan pariwisata. “Ini penting karena wisatawan yang datang ke Indonesia 60 persennya tertarik budaya," ujar Menpar Arief dalam siaran pers yang dirilis Kementerian Pariwisata.

    Barong Ider Bumi menyedot perhatian karena memiliki nilai stori yang kuat. Wisatawan bahkan tak canggung untuk menyantap makanan bersama warga asli daerah itu.

    Barong Ider Bumi umumnya dilakukan setelah Hari Raya Idulfitri oleh Umat Islam. Kegiatan ini akan dilangsungkan terus setiap tahun dan kini menjadi salah satu atraksi wisata.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Kecelakaan Tol Cipali Dipicu Bus yang Supirnya Diserang Penumpang

    Kecelakanan Tol Cipali melibatkan empat kendaraan beruntun di kilometer 150, Senin dinihari, 17 Juni 2019 dipicu serangan penumpang pada supir.