Sabtu, 15 Desember 2018

Iga Bakar Premium, Pilihan Kuliner Berbuka Puasa di Jakarta

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sepiring menu iga bakar madu di sTREATs Restaurant Ibis Styles Mangga Dua, Jalan Gunung Sahari, Jakarta Utara yang dihidangkam pada Senin, 11 Juni 2018. (Tempo/Francisca Christy Rosana)

    Sepiring menu iga bakar madu di sTREATs Restaurant Ibis Styles Mangga Dua, Jalan Gunung Sahari, Jakarta Utara yang dihidangkam pada Senin, 11 Juni 2018. (Tempo/Francisca Christy Rosana)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sajian kuliner manis kerap dibayangkan sebagai salah satu hidangan berbuka puasa. Olahan kurma, sate Madura, sup buah, sirup, kue-kue cokelat, dan santapan royal gula serta kecap lainnya acap memutar-mutar di pikiran menjelang azan maghrib berkumandang.

    Baca:
    Berganti Wajah, Kawasan Kuliner Galabo Siap Sambut Pemudik
    Lebaran, 5 Restoran Seafood di Jakarta Ini Tetap Buka

    Lantas, bagaimana kalau iga bakar madu? Apakah pernah melintas sebagai menu pilihan buka puasa Anda?

    Iga bakar madu bisa menjadi pilihan hidangan berbuka di akhir masa Ramadan kali ini. Bila sedang di Jakarta, salah satu rekomendasi penjaja menu tersebut ialah sTREATs Restaurant yang berlokasi di Ibis Styles Mangga Dua, Jalan Gunung Sahari, Jakarta Utara.

    Iga bakar madu menjadi salah satu menu andalan restoran itu. Menu ini diklaim istimewa karena menggunakan iga kualitas premium. "Iga olahan kami berbeda karena didatangkan dari Australia," ujar Chef Arif Wicaksono saat ditemui di sTREATs Restaurant pada Senin, 11 Juni 2018.

    Dari segi bentuk, iga yang dihidangkan memang tampak memiliki tulang yang kecil dengan daging tebal yang membalutnya. Berbeda dengan iga bakar lokal yang tulangnya besar, tapi dagingnya tipis.

    Iga ini diproses selama kurun waktu lebih dari 4 jam. "Perebusannya saja 4 jam," tutur Chef Arif. Masa perebusan yang lama dilakukan untuk menghasilkan daging yang empuk.Sepiring menu iga bakar madu di sTREATs Restaurant Ibis Styles Mangga Dua, Jalan Gunung Sahari, Jakarta Utara yang dihidangkam pada Senin, 11 Juni 2018. (Foto: Tempo/Francisca Christy Rosana)

    Selama direbus, iga direndam dengan bumbu rempah-rempah rahasia. Setelahnya, iga diolesi dengan madu lokal non-kemasan dan kecap. "Baru kemudian di-marinate dan dibakar," ujar Chef Arif.

    Pembakarannya khusus menggunakan pembakaran ala stone. Waktunya pun cukup 10 menit supaya tidak gosong.

    Seporsi iga berukuran 250 gram akan dihidangkan saat warnanya sudah cokelat mengkilap seperti kristal. Madu dan kecaplah yang membuat rona daging iga terlihat kemilauan.

    Simak: Mengenang Jakarta Tempo Dulu di Bakmi Gang Kelinci

    Saat dibelah dengan sendok, daging akan langsung terlepas dari tulangnya. Warna dagingnya pun masih cukup segar, yakni merah matang. Ketika dikecap, yang pertama kali terasa mendominasi adalah balutan madu serta kecap.

    Iga bakar dihidangkan dengan sepiring nasi, kuah sup, dan emping. Sajian kuliner hangat dan ringan untuk pembatal puasa. Sepiring iga bakar madu dibanderol Rp 65 ribu belum termasuk pajak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penyerangan Polsek Ciracas Diduga Ada Konflik TNI dan Juru Parkir

    Mabes Polri akan mengusut penyerangan Polsek Ciracas yang terjadi pada Rabu, 12 Desember 2018 dini hari. Diduga buntut konflik TNI dengan juru parkir.