Selasa, 25 September 2018

Ini Dia Souvenir Nepal yang Biasa Dibawa Pulang Pendaki Everest

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • kukri (pixabay.com)

    kukri (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Selalu ada souvenir yang dibawa seusai pendaki mengelarkan perjalanannya mencapai berbagai titik puncak di pegunungan Himalaya. Seperti yang dibawa Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala-Universitas Parahyangan Bandung (WISSEMU), Fransiska Dimitri Inkiriwang (24 tahun) dan Mathilda Dwi Lestari (24), seusai mencapai puncak Gunung Everest—gunung tertinggi di Pegunungan Himalaya.

    Dua mahasiswi yang diklaim menjadi perempuan pertama yang menuntaskan tujuh puncak tertinggi dunia itu tak cuma membawa cerita perjalanan, tapi juga oleh-oleh untuk kerabatnya. “Kami mampir dulu di Thamel, Kathmandu, Nepal, untuk istirahat dan belanja buah tangan,” kata Fransiska saat berkunjung ke kantor Tempo di Jalan Palmerah Barat 8, Jakarta Selatan, pada Kamis, 7 Mei. 

    Baca juga: Mudik Lebaran Mewah Naik Kereta, Coba Luxury Sleeper Train

    Fransiska dan Mathilda melakoni perjalanan mencapai puncak tertinggi dunia di Everest selama 30 hari. Sesampainya di kota, mereka mangaku kalap belanja pernak-pernik. Menurut Mathilda, benda yang paling harus dibawa untuk oleh-oleh adalah kukri.

    Kukri merupakan pisau tradisional Nepal. Mata pisaunya berbentuk melengkung. Senjata tajam ini biasanya dipakai untuk alat pemotong apa pun di sana. Selain itu, masyarakat Nepal mengidentikkannya dengan senjata khas Resimen Gurkha atau angkatan perang.
    Suasana toko oleh-oleh di Thamel, Nepal. (Foto: Dokumentasi Tim WISSEMU)

    Menurut pengamatan Mathilda dan Fransiska, kukri dibanderol mulai Rp 200 ribu sampai RP 1 juta. “Kami membelinya dan bisa kami bawa sampai Indonesia. Lolos di bandara,” kata Fransiska.

    Selain kukri, benda yang wajib dibeli menurut keduanya adalah patung-patung Buddha khas Kathmandu. Kathmandu terkenal sebagai kota dengan patung Buddha terbanyak di dunia. Patung itu telah lekat dengan identitas wilayah mereka sebagai ibu kota sekaligus kota terbesar di Nepal. “Kalau patung Buddha, kami beli seharga RP 300 ribuan,” ujar Mathilda. 

    Oleh-oleh lain yang tak kalah menarik dan menjadi incaran para penyuka kegiatan petualangan adalah perlengkapan-perlengkapan luar ruangan atau outdoor. “Di sana banyak banget toko outdoor, mulai yang brand premium sampai KW,” ujar Fransiska. 

    Baca: Liburan Lebaran, Yuk Melancong ke 10 Destinasi Madiun Ini

    Keduanya menjumpai gerai-gerai outdoor merek ternama, seperti The North Face, Red Fox, Columbia, Karriomor, dan lain-lain. Hal yang membuat mereka tak tahan untuk belanja adalah harga. Harga yang dibanderol jauh lebih murah daripada harga di Indonesia.

    “Sepatu The North Face di Indonesia bisa RP 2,5 juta, sedangkan di sana saya beli Rp 1 jutaan,” tutur Fransiska. Di Kathmandu pun tersedia berbagai toko yang menjajakan perlengkapan outdoor bekas atau second hand. Biasanya pendaki yang ogah membawa perlengkapannya pulang akan menjualnya di toko-toko tersebut. Harganya jauh lebih murah, yakni berkisar 50 persen lebih murah daripada harga barang baru. 

    “Kami juga membeli kaus-kaus Nepal seharga Rp 50 ribuan untuk keluarga atau teman-teman,” tutur Mathilda. Souvenir tersebut dapat dijumpai di seluruh sisi Thamel di Kota Kathmandu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Karen Agustiawan Ditahan Karena Akuisisi Pertamina di Blok BMG

    Kejaksaan Agung menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investigasi Pertamina berupa akuisisi aset BMG.