Sabtu, 18 Agustus 2018

Tip Memotret Saat Melancong untuk Hasil Foto Tak Biasa

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan berfoto dengan latar salah satu bangunan bagian dari situs bersejarah Kota Terlarang atau Forbidden City di Beijing, Tiongkok, 5 Mei 2018. Forbidden City berada di pusat Kota Beijing. ANTARA/Zabur Karuru

    Wisatawan berfoto dengan latar salah satu bangunan bagian dari situs bersejarah Kota Terlarang atau Forbidden City di Beijing, Tiongkok, 5 Mei 2018. Forbidden City berada di pusat Kota Beijing. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Memotret menjadi salah satu kegiatan wajib saat melancong. Tentu saja para pengelana ingin menghasilkan beragam foto yang yahud selama melakukan perjalanan.

    Namun bagi sejumlah wisatawan, membuahkan foto-foto indah saja tak cukup. Perlu kebaruan-kebaruan supaya foto terlihat tak biasa saja dan tidak membosankan. Apalagi jika objek destinasi wisata yang dipotret sudah terkenal.

    Menurut fotografer profesional sekaligus juri lomba foto Gebyar Wisata dan Budaya Nusantara 2018, Sendy Aditya, untuk menghasilkan gambar yang berbeda dari yang pernah beredar sebelumnya, wisatawan perlu membidik gambar dengan memperhatikan beberapa hal.

    Berikut ini hal penting yang sebaiknya diperhatikan saat memotret tempat wisata menurut Sendy.

    1. Riset tentang foto destinasi yang beredarUmat Buddha dan wisatawan melepaskan sejumlah lampion saat merayakan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 10 Mei 2017. (Ulet Ifansasti/Getty Images)

    Riset diperlukan untuk mencari angle foto yang berbeda dari biasanya. "Riset bisa dilakukan di mesin pencarian Google atau media sosial," kata Sendy saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Minggu malam, 13 Mei.

    Dia mencontohkan, untuk memotret Borobudur, misalnya, orang tak melulu kudu membidik stupa atau potret candi dari atas Bukit Putuk Setumbu. Foto aktivitas di dalamnya membuat hasil foto lebih hidup.

    Begitu juga saat festival, misalnya saat gelaran festival lampion di Borobudur kala Waisak. Orang tidak hanya bisa berfokus pada landmark dan potret lampionnya. Foto para biksu, misalnya, menjadi hal yang menarik diulas.

    Sendy mencontohkan, foto biksu di Borobudur yang tengah menyaksikan festival lampion karya seorang peserta lomba foto, yakni Dezmond Manullang, berhasil menjuarai foto berkategori tunggal.

    "Dari 2531 foto yang masuk kompetisi, kalau kita lihat, seluruh foto tentang festival lampion Waisak itu hampir sama. Tapi foto aktivitas biksu menjadi angle yang sangat berbeda. Meski tak menampilkan Borobudur, tapi orang sudah tahu kalau itu adalah Borobudur," kata Sendy.

    2. Pencahayaan

    Pelancong perlu peka terhadap arah pencahayaan sinar matahari saat memotret sebuah destinasi wisata. Hal itu sangat mempengaruhi hasil.

    Ia mesti tahu, sebuah obyek wisata itu cocok dipotret kala pagi atau sore, saat matahari terbit atau tenggelam. "Dengan peka arah cahaya, kita akan memperoleh hasil foto yang maksimal," tuturnya.

    3. Komposisi dan pengaruh

    Aspek teknis tak kalah penting. Penguasaan terhadap kamera atau alat potret akan sangat mempengaruhi hasil. Maka itu, wisatawan yang membawa kamera disarankan paham betul dengan menu dan pengaturannya. Aspek penguasaan terhadap alat ini akan menghasilkan komposisi gambar yang pas, baik warna, angle, maupun horizonnya.

    Tak cuma soal alat, sebuah gambar kudu menghasilkan impact atau pengaruh bagi para penontonnya. Misalnya menarik minat penonton foto untuk turut datang ke lokasi serupa.

    4. Latar budaya, aktivitas, dan pesanMasyarakat menunggu puncak acara Sekaten di Masjid Agung Keraton Surakarta, 3 Januari 2015. Puncak Sekaten ditandai dengan keluarnya Gunungan yang terbuat dari sayur dan makanan tradisional. Tempo/Ahmad Rafiq

    Foto adalah gambar bercerita yang mengandung pesan. Begitu juga dengan foto wisata. Sendy menyarankan pelancong tidak memotret obyek kosong yang sebatas menampilkan muatan keindahan sebuah destinasi.

    Sebaiknya ada muatan latar budaya yang bisa diambil dari aktivitas masyarakat sekitar. Sebab, pemotret sejatinya tak asal memotret, tapi ia juga kudu tahu obyek apa yang sedang dipotrernya.

    Potret demikian bisa jadi menghasilkan sebuah foto story. Salah satu peserta lomba foto Gebyar Wisata Budaya dan Nusantara 2018, Arif Hidayat, misalnya, berhasil memenangi lomba kategori foto story setelah mengangkat isu pertunjukan Wayang Sriwedari di Solo.

    "Arif menang salah satunya karena fotonya menampilkan kisah tentang pertunjukan wayang yang sangat struktural," ujar Sendy.

    Cara Arif memotret juga perlu dicontoh karena ia telah membantu pemerintah menyebarkan informasi tari Wayang Sriwideri. Tari ini kini tak banyak diminati anak muda.

    5. Editing foto

    Hal yang tak kalah penting adalah editing atau penyelarasan. Penyelarasan foto harus dilihat dari sisi kepentingannya, yakni untuk diikutikan lomba atau buat promosi wisata di Instagram.

    "Kalau untuk lomba, editing hanya bisa sebatas memperbaiki pencahayaan, warna, mengatur horizon atau croping. Juga tidak melebihkan atau menambah sesuatu di foto," ujar Sendy.

    Lain halnya untuk keperluan sosial media. Penyelarasan gambar bisa disesuaikan dengan selera masing-masing asal tak menambah atau melebih-lebihkan informasi. Bahkan, Sendy menyarankan, penyelarasan foto untuk media sosial ada baiknya disesuaikan dengan selera warna para wisatawan mancanegara.

    "Admin wisata luar negeri akan melirik akun wisata Indinesia bila warnanya cocok," kata Sendy. Hal itu dapat memantik wisman datang. "Foto dengan editing sesuai dengan selera turis asing bisa menarik mereka datang ke obyek wisata yang ada dalam gambar," ujar Sendy.

    Artikel lain: Hario Cafe: Menikmati Makan, Minum, dan Belanja di Satu Lokasi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.