Pendaki Tewas di Rinjani, Tip Aman Naik Gunung

Reporter:
Editor:

Rezki Alvionitasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perjalanan di lembah yang diapit punggungan Gunung Rinjani dan Sangkareang, menuju Danau Segara Anak, di jalur Torean, Lombok, (20/10). TEMPO/Tony Hartawan

    Perjalanan di lembah yang diapit punggungan Gunung Rinjani dan Sangkareang, menuju Danau Segara Anak, di jalur Torean, Lombok, (20/10). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Wisatawan bernama Fahrurozi, 19 tahun, meninggal di jalur pendakian Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu, 21 April 2018. Dia tewas dalam perjalanan turun karena penyakit asma.

    Kasus tewasnya Fahrurozi menjadi peringatan bagi para pendaki gunung supaya tetap berhati-hati dan mematuhi aturan pendakian. Apalagi, saat ini ramai musim orang naik gunung. Musababnya, jalur pendakian di sejumlah gunung mulai dibuka setelah masa pemulihan ekosistem berakhir.

    Baca juga: Pendaki Gunung Rinjani Tewas Sewaktu Turun Pendakian

    Pihak Sahabat Volunteer Semeru (Saver), yang juga pemateri briefing pendakian Gunung Semeru, Sukaryo alias Cakyo, mengatakan ada beberapa hal yang wajib diperhatikan pendaki sebelum mendaki.

    1. Kondisi fisik dan mental

    Cakyo mengatakan pendaki harus sehat secara fisik dan mental. Hal itu dibuktikan dengan surat kesehatan dokter. "Surat harus update H-1 sebelum pendakian," kata Cakyo melalui pesan pendek, Minggu, 22 April 2018.

    Dia juga menyarankan penderita penyakit asma, paru-paru, dan jantung akut tak melakukan aktivitas pendakian. Imbauan tersebut selalu disampaikan setiap briefing pendakian dilaksanakan.

    2. Membawa P3K standar dan obat pribadi

    Pendaki tak boleh lupa membawa obat-obatan standar P3K selama mendaki. Obat-obatan itu meliputi obat dalam dan obat luar. Misalnya obat maag, diare, dan demam untuk obat dalam. Lalu betadine untuk obat luar.

    3. Rombongan pendakian minimal beranggotakan tiga orang

    Pendaki jelas tak boleh melakukan pendakian seorang diri. Berdua pun tak disarankan. Minimal, pendaki naik gunung bersama rombongan yang beranggotakan tiga orang. "Bila terjadi sesuatu, satu orang menunggu atau menangani korban, satu lagi turun melaporkan kejadian dan minta bantuan," ujar Cakyo.

    4. Anggota tim yang paham penanganan kondisi darurat

    Selain harus beranggotakan minimal tiga orang, salah satu anggota rombongan pendakian mesti paham pertolongan pertama. "Dalam satu tim harus ada orang yang memiliki kemampuan penanganan gawat darurat," ucapnya. Hal yang lebih penting, bila ada anggota yang tak kuat, anggota tim lainnya harus mengingatkan bahwa ia tak boleh memaksakan diri melanjutkan naik gunung.

    Artikel Lain: UNESCO Tetapkan Gunung Rinjani sebagai Kawasan Geopark Dunia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.