Minggu, 22 April 2018

5 Hal Penting Sebelum Memotret di Galeri Seni dan Museum

Reporter:
Editor:

Rezki Alvionitasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Barack Obama memandangi lukisan bergambar Michelle Obama yang merupaka karya  seniman Amy Sherald dalam upacara peresmian di Galeri Potret Nasional Smithsonian di Washington, AS, 12 Februari 2018. AP Photo

    Barack Obama memandangi lukisan bergambar Michelle Obama yang merupaka karya seniman Amy Sherald dalam upacara peresmian di Galeri Potret Nasional Smithsonian di Washington, AS, 12 Februari 2018. AP Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Hong Kong menggelar pameran seni akbar bertajuk Arts Month, Maret 2018. Pameran seni kelas dunia ini berhasil menarik perhatian 86 persen wisatawan milenial yang akan berlibur di kota tenggara Cina itu.

    Beragam lukisan dan karya seni instalasi yang dipajang tampak unik dan artistik. Sejumlah pengunjung umumnya tertarik untuk mengabadikannya dalam bentuk potret. Beberapa pelancong bahkan berswafoto di depan benda-benda yang dipajang pada etalase atau partisi.

    Baca juga: Selain Wisata Belanja, Hong Kong Mulai Kembangkan Festival Seni

    Berkaca pada perhelatan Arts Month ini, memotret di galeri seni dan museum secara umum ternyata tak diperkenankan asal jepret. Storygrapher atau fotografer yang merangkap sebagai pencerita, Alexander Thian, mengatakan pengunjung sebaiknya memahami beberapa hal penting dalam mengabadikan gambar. Berikut ini poin-poin yang harus diperhatikan.

    1. Beberapa museum dan galeri melarang pengunjung mengambil gambar

    Alexander Thian, yang kerap dijuluki AT, mengimbau wisatawan lebih dulu menengok aturan yang tertera pada dinding gedung. Sebab, biasanya, ada beberapa museum dan galeri yang tak memperkenankan pengunjungnya memotret. "Beberapa museum melarang segala macam bentuk fotografi supaya wisatawan betul-betul menikmati art," kata AT saat ditemui di Hotel Morrisey, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin, 2 April 2018.

    2. Boleh swafoto, asal tak eksesif

    Eksesif, maksud AT, merujuk pada kebiasaan yang mengganggu pengunjung lainnya. "Foto dari berbagai angle sampai menutupi pengunjung lain yang mau menikmati karya, itu tak boleh," ucap AT. Sebab, ketika datang ke galeri dan museum, pelancong bukan hanya bisa berfoto, tapi juga menikmati keindahan karya seni hasil proses kreatif penggagasnya.

    3. Memanfaatkan audio guide

    AT menyarankan pengunjung untuk memahami cerita di balik karya seni melalui audio guide yang disediakan. Dengan mengerti cerita di balik karya tersebut, potret yang dihasilkan untuk mengabadikan karya tampak lebih bernyawa. "Sebab, kamu tahu apa yang kamu potret, luar dan dalamnya," ucap AT.

    4. Sense of scale

    Sense of scale berhubungan dengan pemahaman penonton foto Anda terhadap karya yang Anda potret. Untuk memperlihatkan skala ukuran karya seni sesungguhnya, fotografer kerap menggunakan perbandingan, seperti objek manusia. "Taruh orang masuk frame. Maka yang melihat fotomu akan tau seberapa besar ukuran foto itu," ujar AT.

    5. Tidak ditujukan untuk kepentingan komersial

    Memotret karya seni apalagi lukisan dengan tujuan replikasi tentu tak diperkenankan. Alih-alih untung, pelakunya malah bakal terlilit kasus. Maka, memotret karya, ujar AT, sebaiknya disimpan untuk koleksi pribadi.

    5. Mengobrol dengan kurator

    Selain memahami karya lewat audio guide, pengunjung juga dapat mempelajari makna dan maksud sebuah karya dari seorang kurator. Kurator akan bercerita tentang siapa si seniman, apa latar belakangnya membuat karya seni itu, dan mengapa karya itu terpilih untuk dipamerkan.

    Dengan berdialog dengan kurator, jendela wawasan terhadap karya seni yang akan dipotret menjadi luas. "Sama seperti ketika aku foto, aku menceritakan sesuatu. Dan ketika aku menceritakan ulang, aku sudah punya bahan apa yang mau aku ceritakan," kata AT.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Hari Kartini, Shahnaz Haque Berpesan Wanita Harus Seperti Kucing

    Inilah petuah selebritas Shahnaz Haque, atlet bulu tangkis Greysia Polii, dan peneliti laser Maria Margaretha Suliyanti untuk Hari Kartini 2018.