Selasa, 13 November 2018

Selain Wisata Belanja, Hong Kong Mulai Kembangkan Festival Seni

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para anak gadis mengenakan pakaian tradisional Cina diarak keliling kota saat pawai  Festival Bun di Pulau Cheung Chau, Hong Kong, 25 Mei, 2015. Festival ini diadakan setiap tahun untuk menenangkan roh-roh orang yang dibunuh oleh bajak laut. AP/Vincent Yu

    Para anak gadis mengenakan pakaian tradisional Cina diarak keliling kota saat pawai Festival Bun di Pulau Cheung Chau, Hong Kong, 25 Mei, 2015. Festival ini diadakan setiap tahun untuk menenangkan roh-roh orang yang dibunuh oleh bajak laut. AP/Vincent Yu

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada cara lain menikmati Hong Kong. Bukan lewat belanja, tapi dengan menyaksikan pertunjukan seninya. “Maret lalu, Hong Kong melaksanakan Hong Kong Arts Month”, kata Manager Public Relation Hong Kong Tourism Board Daphne Hi saat ditemui di Hotel Morrisey, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin, 2 April 2018. Art festival alias festival seni ini memang rutin digelar saban tahun.

    Pameran seni Hong Kong diadakan sebagai upaya menarik perhatian turis milenial. Sebab, menurut data Hong Kong Tourism Board, 86 persen wisatawan milenial tertarik melancong untuk menyaksikan pentas budaya, termasuk seni. Kendati festival sudah berakhir, wisatawan tetap bisa menikmati karya-karya yang masih dibiarkan terpajang di banyak tempat.

    Hong Kong Arts Month memang dihelat di seluruh titik ramai di kota tenggara Cina tersebut. Wisatawan melihat karya seniman lokal hingga seniman dunia, baik yang ditampilkan dalam rupa lukisan, foto, maupun karya lainnya. Para seniman menggelar masterpiece-nya di sejumlah tempat pertunjukan atau lokasi yang bisa dengan mudah disambangi khalayak.

    Festival Hong Kong Arts Month tak cuma berlokasi di satu tempat. Galeri-galeri yang menampilkan karya seni tersebar di sejumlah wilayah. Misalnya di Hong Kong Convention Center. Di tempat tersebut dihelat pameran Art Basel yang diawali pada 29 Maret dan berakhir pada 31 Maret.

    Di Art Basel, pengunjung bisa menyaksikan pameran seni internasional yang menampilkan 248 galeri kesohor dari 32 negara dan wilayah di dunia. Menariknya, ada dua galeri Indonesia di sana, yakni Nadi Gallery dan ROH Project. Seniman Tanah Air pun turut terlibat, seperti Indiguerilas, Entang Wiharso, dan Eddie Hara.

    Selain itu, diadakan pameran Art Central di Central Harbourfront Event Space. Karya seni para perupa dalam acara ini dipamerkan pada 27 Maret hingga 1 April. Karya yang ditampilkan ialah seni instalasi termutakhir. Tak cuma itu, turis pun dapat mengikuti diskusi panel yang digelar bersamaan. Lagi-lagi, karya seniman Indonesia, Entang Wiharso, turut ditampilkan pada agenda ini.

    Fotografer sekaligus storyteller, Alexander Thian, yang sempat datang ke Hong Kong Arts Month, mengaku terpukau dengan sajian kota yang berbeda. “Ada seni yang bisa kita nikmati di mana pun, bahkan di tempat yang tak terduga,” katanya. Memang, selain di galeri khusus, karya para seniman, khususnya seniman lokal, ditumpahkan dalam berbagai medium.

    Pada momentum festival, wisatawan melihat lukisan-lukisan tersebar di berbagai penjuru kota. Semisal di dinding-dinding gedung tinggi sampai di gang-gang sempit. Selain bisa menikmati seni secara visual, pengunjung juga menyaksikan karya dalam bentuk bergerak. Semisal tari-tarian kontemporer yang mengangkat budaya lokal.

    Artikel lain: Penemuan Habitat Baru Bunga Rafflesia Langka di Bukita Kaba


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?