Di Ubud Food and Festival, Turis Sarapan Sambil Belajar Bahasa

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Musisi saksofon jazz asal Indonesia, Pramono Abdi tampil dalam Ubud Village Jazz Festival 2017 di Ubud, Bali, 11 Agustus 2017. Festival musik ini menjadi tujuan wisata para turis mancanegara. Johannes P. Christo untuk TEMPO

    Musisi saksofon jazz asal Indonesia, Pramono Abdi tampil dalam Ubud Village Jazz Festival 2017 di Ubud, Bali, 11 Agustus 2017. Festival musik ini menjadi tujuan wisata para turis mancanegara. Johannes P. Christo untuk TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Ubud Food and Festival (UFF) 2018 akan digelar di Ubud, Bali, pada 13-15 April mendatang. Festival kuliner yang diprakarsai Yayasan Muda Swari Saraswati tersebut kali ini mengusung tema Generasi Inovasi.

    Inovasi yang dihadirkan bukan hanya soal varian masakan, tapi juga program yang dirancang untuk menggaet minat turis. Salah satu program yang menarik perhatian ialah bahasa breakfast atau bahasa sarapan. Program ini masuk rangkaian masterclass dengan tiket yang dijual terpisah dengan tiket masuk UFF reguler.

    Kelas bahasa breakfast, yang juga disebut kelas bubur dan bahasa, mengajak partisipan UFF 2018 belajar bahasa Indonesia paling sederhana. “Khususnya untuk berinteraksi dengan penjual sarapan di pasar, misalnya. Seperti menanyakan harga,” kata General Manajer Ubud Food and Festival Kadek Purnami, saat acara temu wartawan di Glass House, Hotel Ritz Carlton Pacifi Place, Jakarta Selatan, Jumat, 23 Maret lalu.

    Di samping belajar bahasa Indonesia, peserta yang kebanyakan adalah turis asing, akan mengenal budaya sarapan bubur. Bubur bagi orang Indonesia memang dikenal merupakan menu yang identik dengan sarapan. Semangkok bubur yang mengepul di pagi hari akan memantik keseruan proses belajar bahasa dan budaya Nusantara. 

    Bukan tak mungkin, peserta juga bakal diajak terjun langsung menemui penjaja sarapan di pasar tradisional. Mereka akan berinteraksi dengan para pedagang secara langsung. “Peserta bisa menikmati jajanan pasar sambil belajar bahasa indonesia,” kata Kadek.

    Program UFF yang dikerjasamakan dengan Sekolah Cinta Bahasa Indonesia itu menarik atensi turis berbagai negara sejak digelar rutin tiap tahun. Di antaranya turis dari Autralia, Eropa, dan Asia. 

    Program ini diadakan satu sesi per hari. Namun pesertanya terbatas. “Hanya 15-20 orang,” ucap Kadek. Dengan peserta yang tak terlalu banyak, pelajaran yang diberikan oleh tutor dalam kelas bahasa breakfast diharapkan bakal terserap dengan baik. 

    Khusus program ini, disediakan tiga jenis tiket. Di antaranya untuk warga negara Indonesia (WNI) yang dibanderol Rp 60 ribu, untuk orang asing yang sudah lama tinggal di Indonesia dengan tiket Rp 100 ribu, dan turis asing Rp 150 ribu. Tiket dijual secara daring melalui laman resmi UFF 2018.

    Artikel lain: 7 Fakta Museum Holocaust yang Dikunjungi Syahrini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.