Senin, 25 Juni 2018

Menteri Pariwisata Ingin Wisata Maluku Utara seperti Maladewa

Reporter:
Editor:

Rezki Alvionitasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto aerial suasana Pulau Dodola, Morotai, Maluku Utara, 10 Agustus 2017. Pulau Dodola menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan untuk menikmati dataran yang terbagi dua antara Pulau Dodola Besar dan Dodola Kecil yang tersambung dengan jembatan pasir putih saat air laut surut. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

    Foto aerial suasana Pulau Dodola, Morotai, Maluku Utara, 10 Agustus 2017. Pulau Dodola menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan untuk menikmati dataran yang terbagi dua antara Pulau Dodola Besar dan Dodola Kecil yang tersambung dengan jembatan pasir putih saat air laut surut. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Pesona wisata Maluku Utara makin dilirik dunia. Keindahan lanskap alam yang komplet, mulai laut, darat, hingga pegunungan, berhasil mendatangkan ribuan wisatawan mancanegara tiap tahun ke sana.

    Tiga pulau berjuluk segitiga emas, yakni Ternate, Tidore, dan Morotai, menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Keindahan provinsi di timur Indonesia ini tentu tak kalah dengan wilayah-wilayah kepulauan lain di dunia yang sudah lebih dulu kesohor.

    Baca juga: Tiga Festival Ini Jadi Agenda Wisata Unggulan Maluku Utara

    Tak janggal kalau provinsi tersebut ditetapkan sebagai satu dari 10 destinasi Bali baru yang bakal mendongkrak kunjungan turis mancanegara ke Nusantara.

    Kehadiran Maluku Utara di pasar wisata internasional menjadi perhatian khusus Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurut dia, banyak hal harus dilakukan untuk mengupayakan percepatan pembangunan wisata.

    "Rumusnya pakai unsur 3A, yaitu atraksi, amenitas, dan aksesibilitas. Ketiganya harus benar-benar siap," katanya saat peluncuran 33 agenda wisata Maluku Utara, di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta Pusat, Selasa, 13 Februari 2018.

    Arief mengatakan dua unsur utama, yakni atraksi dan amenitas, telah dipenuhi Maluku Utara. Namun soal urusan aksesibilitas, perlu dilakukan pembangunan berlanjut. Utamanya perihal bandar udara (bandara) internasional.

    "Maluku ini jumlahnya 4.000 kepulauan. Solusinya adalah kita bikin sea plane," ujarnya. Sea plane adalah taksi udara yang bisa mendarat di laut. Kendaraan itu akan membawa turis lebih mudah mengunjungi pulau-pulau kecil.

    Sea plane sudah dibangun lebih dulu di Maladewa. Sebab, tipografinya yang berupa kepulauan-kepulauan kecil tak memungkinkan pemerintah membangun bandara internasional satu demi satu di sana. Hal itu sama dengan yang terjadi di Maluku Utara.

    "Kalau saya mengharapkan pemerintah menggarap bandara, akan lama," ucapnya.

    Selain sea plane yang diadaptasi dari Maladewa, Arief juga ingin membangun konsep pariwisata nomadic. Konsep ini memungkinkan investor membangun akomodasi sementara yang bisa berpindah-pindah. "Misalnya, seperti hotel karavan atau glam-camping yang sudah mendunia," tuturnya.

    Dengan konsep wisata ini, Arief meyakini pariwisata Maluku Utara akan bertumbuh cepat. Selain itu, provinsi tersebut bakal berkontribusi besar terhadap upaya pencapaian target kunjungan 20 juta wisatawan asing hingga 2019.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA

    Artikel Lain: 5 Destinasi Wisata Kekinian di Lembang, Yuk Liburan ke Sini!


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Pelatih Paling Mahal di Piala Dunia 2018

    Ini perkiraan jumlah gaji tahunan para pelatih tim yang lolos Piala Dunia 2018.