Selasa, 25 September 2018

Kisah Stephen Hawking Melayang di Udara

Reporter:
Editor:

Rezki Alvionitasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fisikawan Stephen Hawking. REUTERS/Lucas Jackson

    Fisikawan Stephen Hawking. REUTERS/Lucas Jackson

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahli fisika Stephen Hawking berencana melakukan perjalanan ke luar angkasa dengan menumpang pesawat Virgin Galactic. Keinginannya ini belum terpenuhi hingga dia tutup usia pada Rabu, 14 Maret 2018.

    Dia boleh jadi astrofisikawan terbesar yang tahu lebih banyak tentang bintang-bintang ketimbang manusia lain. Namun, pergi ke luar angkasa adalah mimpi bagi Hawking. Sejak 22 tahun, dia harus memakai kursi roda. Penyakit Lou Gehrig melumpuhkan hampir seluruh saraf motorik di tubuhnya, sehingga menyisakan kemampuan komunikasi hanya lewat gerakan kelopak mata serta menarik ulur otot mulut dan pipinya.

    Baca juga: Stephen Hawking Meninggal Dunia pada Pi Day

    Namun pria kelahiran Oxford, Inggris, 8 Januari 1942 ini pernah merasakan melayang di udara. Seperti yang ditulis Koran Tempo pada Mei 2007. Mimik wajah Hawking tampak ceria. Profesor matematika di Universitas Cambridge itu terus menarik alis matanya ke atas. Sorot matanya menyiratkan antusiasme.

    Dia seperti tidak percaya apa yang baru saja dicobanya: kondisi tanpa bobot, total selama hampir empat menit. "Luar biasa...," begitu katanya sekembalinya ke kursi roda. Menggunakan komputer synthesizer yang membantu menciptakan kata-katanya, Hawking terus berceloteh, "Sensasinya sungguh indah. Saya mengalaminya, berulang-ulang kali."

    Dimulai pukul 14.30 waktu setempat, separuh mimpi Hawking untuk bisa pergi ke luar angkasa mulai teretas. Tiga dokter mendampinginya menanggalkan sesaat kursi rodanya. Siang itu, selama dua jam, Hawking menjadi penumpang istimewa sebuah pesawat jet Boeing 727 yang sudah dimodifikasi milik Zero Gravity Corp.

    Total ada sekitar 20 penumpang selain dirinya, termasuk pendiri Zero Gravity Corp, Peter H. Diamandis dan Byron Lichtenberg. Pesawat terbang di atas Samudra Atlantik pada ketinggian 24 ribu kaki, lalu melakukan manuver gerak parabola raksasa di langit. Efeknya, gravitasi nol layaknya berada di luar angkasa bagi para penumpangnya, termasuk Hawking.

    Tidak cuma sekali, efek diberikan hingga delapan kali oleh penerbangan bak Halilintar, roller coaster di Dunia Fantasi itu. Lewat metode seperti itulah para astronot NASA biasa berlatih sebelum meluncur ke luar angkasa.

    Dalam kabin pesawat, Hawking sempat berputar berpilin pada satu kaki sebanyak dua kali, mirip gerakan pesenam peraih medali emas Olimpiade. Pakar teori Lubang Hitam dan penulis buku terkenal A Brief History of Time itu bahkan sempat-sempatnya meminta seorang kru untuk melemparkan sebuah apel ke udara, saat yang sama sebagai perayaan temuan gaya gravitasi oleh Isaac Newton.

    Pada akhir setiap sensasi tanpa bobot selama 25 detik, yang dirasakannya di setiap gerak parabolik, tim medis memastikan Hawking menyentuh kembali matras di lantai kabin pesawat dengan nyaman. Gaya gravitasi yang kembali berpengaruh pada saat itu dikhawatirkan bisa membuat pasien seperti Hawking sesak napas.

    Dalam penerbangan itu, tim medis masih mengenakan pemantau kadar oksigen dalam darah di daun telinga Hawking, begitu pula peralatan EKG di dada dan pengukur tekanan darah di lengan. Mereka juga menyiapkan unit perawat intensif mini untuk antisipasi.

    Sementara itu, tim medis harap-harap cemas, Hawking terus saja mengangkat alis matanya tanda sukacita luar biasa. "Saya kira parameter fisiologis saya lebih buruk daripada miliknya," kata Edwin Chilvers, dokter pribadi Hawking.

    Sekembalinya di darat, Hawking, satu dari ilmuwan fisika penelaah awal mula jagat raya, segera mengingatkan janji Sir Richard Bronson, yang akan mengajaknya ke "nirwana" lewat misi partikelir Virgin Galactic pada 2009.

    Sam Blackburn, asisten Hawking, mengungkapkan, penerbangan Zero-Gravity sekaligus uji coba untuk melihat seberapa jauh kondisi fisik tuannya mampu mengatasi gaya gravitasi sebelum benar-benar meninggalkan atmosfer bumi. "Itu adalah tujuan utama penerbangan ini," katanya.

    Tapi, lebih dari itu, Stephen Hawking memanfaatkan kesempatan itu untuk mengungkapkan pandangannya tentang masa depan manusia di bumi. Menurut dia, kehidupan di planet bumi semakin berisiko terhapus bencana pemanasan global, perang nuklir, virus hasil rekayasa genetik, dan lainnya.

    AP | MIRROR | WASHINGTONPOST | GOZEROG | WURAGIL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Karen Agustiawan Ditahan Karena Akuisisi Pertamina di Blok BMG

    Kejaksaan Agung menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investigasi Pertamina berupa akuisisi aset BMG.