Rabu, 23 Mei 2018

Imlek, Menyusuri Jejak Kampung Pecinan Tertua di Palembang

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Eng Sui sedang membersihkan altar sembahyang di rumah kapitan, Kampung Kapitan, Palembang. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Eng Sui sedang membersihkan altar sembahyang di rumah kapitan, Kampung Kapitan, Palembang. Tempo/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Palembang - Di tepi Sungai Musi, berseberangan dengan Benteng Kuto Besak, sebuah kampung pecinan berdiri. Kampung ini seperti kompleks permukiman mini dengan bangunan-bangunan tua yang mengelilinginya. Menjelang Imlek, mengunjungi kawasan ini bagai menapaki sejarah masuknya orang Tionghoa ke Palembang.

    Di muka kampung itu, berdiri dua rumah induk. Keduanya tergolong rumah yang paling besar dan paling tinggi. Bentuk bangunannya khas rumah Tionghoa kuno. Atapnya berbentuk limasan dan gentingnya model lampau.

    Ada jembatan yang menghubungkan kedua rumah. Jembatan itu melayang di atas jalan masuk perkampungan.

    Rumah ini kerap menjadi perhatian orang-orang yang kebetulan melintas. Konon, pemiliknya adalah Perwira Tjoa, perwira Cina dari Dinasti Ming. Dialah pembawa peradaban Tionghoa pertama di tanah Sriwijaya.

    Perwira Tjoa, yang lebih dikenal dengan sebutan kapitan, pernah didapuk sebagai pengatur wilayah pada zaman Belanda. Cucunya, Eng Sui, suami dari generasi ke-14 Tjoa, yang ditemui di Palembang pada Rabu sore, 14 Februari 2018, mengatakan keberadaan sang kapitan cukup berpengaruh bagi kehidupan perdagangan Palembang.

    Pada masa jayanya, kapitan memboyong keluarganya ke tepi Sungai Musi itu. "Dia (kapitan) membawa rupang (patung dewa) dan pusaka-pusaka berharga ke sini langsung dari Tiongkok," kata Eng Sui, yang kini sudah berusia 69 tahun.

    Kapitan lantas beranak-cucu di Palembang. Kini generasi terakhirnya adalah generasi ke-16. "Berarti kan sudah ratusan tahun kami ada di sini," kata Eng Sui.

    Peninggalan-peninggalan Tjoa masih tersimpan rapi di rumah berusia hampir 500 tahun itu. Benda-benda tersebut dijuluki pusaka keluarga. "Kami tak mungkin menjualnya lagi karena sudah masuk cagar budaya," tutur Eng Sui.

    Benda-benda itu di antaranya meliputi altar sembahyang, rupang, lemari, bingkai-bingkai foto, dan pernak-pernik yang terbuat dari kayu kuno.Rumah Kapitan di Kampung Kapitan, Kelurahan 7 Ulu, Palembang. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Rumah kapitan ramai menjelang Imlek. Orang-orang datang untuk bersembahyang. Eng Sui bercerita, pesembahyangnya bahkan datang dari luar kota, seperti Jakarta, bahkan luar negeri. "Setiap hari, kalau mau Imlek begini, ramai. Apalagi kalau pagi," katanya.

    Pada hari-H tahun baru Cina, keluarga besar kapitan juga mempertahankan tradisi turun-temurun, yakni menggelar open house. Masyarakat umum diperkenankan datang untuk sekadar minum bersama.

    "Kalau dulu sih makan bersama. Tapi karena ekonomi lemah, jadi sekarang tinggal minum aja," tuturnya.

    Bila ingin berkunjung ke Kampung Kapitan, datanglah sebelum pukul 17.00. Bertandanglah seperti layaknya orang bertamu. Sebab, rumah ini masih dipakai oleh dua keluarga keturunan terakhir kapitan.

    Bila menempuh perjalanan dari bandara, Anda bisa memilih naik taksi sampai ujung Jembatan Ampera. Lalu dilanjutkan jalan kaki menuju Kelurahan 7 Ulu. Biaya naik taksi dari bandara menuju kampung ini berkisar Rp 100 ribu.

    Artikel lain: Jogja Air Show Diwarnai Pemecahan Rekor Paramotor Terbang Bersama


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Teror di Indonesia Meningkat, RUU Anti Terorisme Belum Rampung

    RUU Anti Terorisme tak kunjung rampung padahal Indonesia telah menghadapi rangkaian serangan dalam sepekan, dari tanggal 8 sampai 16 Mei 2018.