Rabu, 24 Oktober 2018

Dihelat Juni, Solo Batik Carnival Angkat Keragaman Nusantara

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang seniman tengah minum usai memperagakan kostum untuk perhelatan Solo Batik Carnival Juli mendatang di acara Car Free Day, Surakarta, Jawa Tengah, 8 Mei 2016. TEMPO/Bram Selo Agung

    Seorang seniman tengah minum usai memperagakan kostum untuk perhelatan Solo Batik Carnival Juli mendatang di acara Car Free Day, Surakarta, Jawa Tengah, 8 Mei 2016. TEMPO/Bram Selo Agung

    TEMPO.CO, Surakarta - Gelaran Solo Batik Carnival 2018 yang dilaksanakan pada pertengahan Juni mendatang akan mengangkat keanekaragaman batik Nusantara. Kali ini perhelatan mengangkat  "Ika Paramartha".

    "Ika artinya Bhinneka Tunggal Ika, sedangkan Paramartha artinya hal-hal baik yang menyatukan kita," kata Ketua Yayasan Solo Batik Carnival,  Lia Imelda di Solo, Jawa Tengah, Rabu, 14/02.

    Ia mengatakan tema tersebut diangkat mengingat saat ini kondisi politik maupun sosial sedang rawan gesekan. Dia berharap, Solo batik Carnival bisa menyatukan suku, agama, ras, dan antargolongan yang ada di Indonesia.

    Koordinator SBC ke-11/2018 Ragowo Ade Kurniawan mengatakan jika tahun-tahun sebelumnya acara ini mengunggulkan batik khas Solo, tahun ini SBC menyatukan ragam kekayaan di setiap daerah dari Sabang sampai Merauke.

    "Kali ini kami mengambil batik-batik di seluruh daerah di Indonesia. Ada delapan tema besar yang kami angkat yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, Nusa Tenggara, Bali, Jawa, dan DKI Jakarta," katanya.

    Untuk Pulau Jawa, nama defile-nya adalah Jawa Dwipa, Pulau Sumatera bernama Nagari Minangkabau, Pulau Kalimantan defile Dayak Borneo, Pulau Bali dengan Janger Dewata, Pulau Sulawesi defile Mappalili Mamiri, Pulau Irian Jaya defile Tana Sajojo, Pulau Nusa Tenggara dengan defile Sasando Timor, dan DKI Jakarta dengan Lenggang Batavia.

    "Kami ingin peserta SBC ini sebagai kreator, desainer, dan penampil. Jadi bukan hanya pesan kostum kemudian bayar," kata Ragowo.

    Ia mengatakan ketentuannya adalah 75 persen dari kostum yang digunakan adalah batik baik untuk cap maupun printing. Panitia melarang penggunaan kain batik tulis, karena jika digunakan untuk membuat kostum akan akan merusak pakem batik itu sendiri.

    Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Surakarta Nunuk Mari Hastuti mengatakan SBC sudah masuk dalam 100 Wonderful Event di Indonesia.

    "Kalau dampaknya bagi Kota Solo, pergelaran SBC ini bertujuan melestarikan batik dengan cara yang menarik karena Solo merupakan kota batik," katanya.

    ANTARA

    Artikel lain:

    Imlek dan Angpao Merah, Ini Maknanya

    Ke Probolinggo, Menteri Susi Pudjiastuti Berenang Dekat Hiu Tutul


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.